Halo Sobat Bang Firman’s Blog …

“The goal of early childhood education should be to activate the child’s own natural desire to learn.”

~ Maria Montessori ~

Pernahkah Anda mendengar atau membaca ungkapan di atas? Jika kita terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, ungkapan tersebut memiliki maksud yang berbunyi bahwa tujuan pendidikan anak usia dini haruslah untuk mengaktifkan keinginan alami seorang anak untuk belajar. Berkaitan dengan hal tersebut, maka peran orang tua dan keluarga tentunya sangat sentral dalam tumbuh kembang anak, termasuk dalam hal mengajarkan dan mempersiapkan pendidikan anak saat usia dini.

Sebagaimana diketahui, keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang anggota yang terkumpul dan tinggal di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Keluarga dengan ayah dan ibu sebagai orang tua merupakan pendidik yang pertama dan paling utama. Bahkan sebuah syair atau petuah dalam bahasa Arab mengatakan,

Al-ummu madrasatul ulaa, idza a’dadtaha, a’dadta sya’ban thayyibal a’raq, 

Bila diartikan, maka syair tersebut memiliki makna bahwa seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Seperti yang kita semua rasakan, saat ini kita hidup pada zaman di mana sebagian besar manusia di dunia sudah semakin melek terhadap perkembangan teknologi, dan kini semuanya serba mudah untuk saling terhubung satu sama lain. Gadget dan internet menjadi bagian yang tak terlepaskan dari gaya hidup kita sehari-hari. Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia juga turut terkena dampak digitalisasi tersebut. Hingga Maret 2017, Internet World Stats mencatat estimasi jumlah penduduk Indonesia mencapai 263 juta jiwa dengan jumlah pengguna internet sebanyak 132 juta jiwa.

Sedangkan menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016 menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pengguna internet di Indonesia pada tahun 2016 sekitar 132,7 juta jiwa. Media yang digunakan sebagian besar adalah gawai atau gadget, dengan jumlah pengguna sekitar 67,2 juta jiwa.

Pada tahun 2016 saja, kalangan mahasiswa dan pelajar Indonesia menjadi penetrasi pengguna internet tertinggi dengan masing-masing 89,7 persen dan 69,8 persen. Ini merupakan bukti bahwa ketergantungan pelajar-pelajar Indonesia terhadap internet semakin meningkat yang tentunya dapat memicu berbagai persoalan, jika penggunaan internet oleh anak-anak atau pelajar tidak dilakukan secara bijak dan pintar.

Kemudian, pada hasil survei berdasarkan usia, kategori pelajar yang umumnya berada pada rentang usia 10-24 tahun menjadi urutan ketiga komposisi pengguna internet di Indonesia dengan persentase 18,4 % atau total sekitar 24,4 juta pengguna internet pada tahun 2016. Dengan tingkat penetrasi dan jumlah pengguna internet seperti itu, maka sudah terbentuklah sebuah masyarakat baru, yaitu sebuah superorganisme baru yang diibaratkan seperti sarang lebah (istilah yang dipopulerkan oleh Mark Slouka) di Indonesia.

Sayangnya, paradigma digital masyarakat belum terbangun. Sebagian besar pengguna internet masih berfokus pada pemanfaatan media sosial, belum didominasi dengan pemahaman yang lebih maju bahwa dunia digital bisa dioptimalkan lebih maksimal, tidak saja untuk berkomunikasi dalam kapasitas pergaulan dan persahabatan, tapi juga bisa untuk sharing knowledge, aktualisasi diri, hingga motif bisnis dan ekonomi.

Selain itu, pesatnya perkembangan dunia teknologi informasi di Indonesia juga memberikan tantangan dalam pendidikan anak pada era digital. Penyalahgunaan internet oleh kalangan pelajar seperti mengakses konten-konten negatif dan non-edukatif akan berpengaruh bagi tumbuh kembang anak. Penyalahgunaan tersebut juga dapat mengakibatkan berbagai permasalahan dalam perilaku anak, misalnya kecanduan bermain game sehingga menjadi lebih individualis, materialis, bahkan memiliki masalah psikis, ketergantungan berlebihan terhadap media sosial, kebiasaan bullying dan hate speech di dunia maya, prestasi dan motivasi belajar yang menurun, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, permasalahan ini perlu menjadi perhatian utama pemerintah. Salah satunya, masyarakat sangat perlu untuk diberikan pembinaan dan edukasi dalam memanfaatkan teknologi digital secara bijak.

Terbentuknya sebuah masyarakat digital baru di Indonesia ini, perlu disikapi secara serius oleh kita semua. Hal ini berlaku pula untuk anak-anak bangsa usia dini. Pendidikan yang diberikan untuk anak-anak usia dini juga perlu mengantisipasi era digital, karena anak-anak pada usia 0-6 tahun inilah yang akan menjadi tulang punggung pembangunan bangsa pada 25 hingga 30 tahun mendatang.

Anak-anak perlu diarahkan dan diajarkan untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi namun juga bersifat bijak dan kreatif dalam menggunakannya. Sikap inilah yang perlu untuk dibangun sejak dini baik oleh institusi pendidikan maupun keluarga.

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari situs Sahabat Keluarga Kemendikbud RI tentang materi Pelatihan atau Bimbingan Teknis ‘Mendidik Anak di Era Digital’ yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga pada tahun 2017, berikut adalah konsep dan cara yang bisa dilakukan oleh para orang tua dalam mendidik anak-anaknya pada era digital masa kini:

1. Memahami Anak Sebagai Generasi Digital dan Orang Tua Sebagai Imigran Digital

Generasi Digital adalah individu yang lahir setelah adopsi teknologi digital, sedangkan Generasi Imigran Digital adalah individu yang lahir sebelum munculnya teknologi digital. Dalam hal ini, berarti seorang anak yang lahir pada era milenium atau abad 21 adalah generasi digital dan orang tua merupakan generasi imigran digital.

Anak-anak generasi masa kini merupakan generasi digital native, yaitu mereka yang sudah mengenal media elektronik dan digital sejak lahir.”
~ Ikatan Dokter Anak Indonesia ~

2. Memahami Manfaat Teknologi Digital Secara Benar dan Maksimal

Setelah memahami perbedaan antara generasi digital dan generasi imigran digital, orang tua sebaiknya memahami secara benar dan maksimal tentang manfaat teknologi digital agar tidak kalah atau ketinggalan informasi dari anak di rumah. Manfaat teknologi digital yang perlu diketahui dan dipahami oleh setiap orang tua antara lain: sebagai sumber informasi, membangun kreativitas, mempermudah komunikasi, pembelajaran jarak jauh, adanya jejaring sosial, mendorong pertumbuhan usaha serta memperbaiki pelayanan publik.

3. Memahami Ancaman-Ancaman Era Digital Bagi Anak

Mencari alternatif untuk menghindari pemakaian berlebih terhadap perangkat digital pada anak juga bisa jadi solusi yang baik. Sebagai paman, saya pun terkadang dengan sengaja mengajak keponakan-keponakan saya untuk melakukan hal lain, selain penggunaan gadget.

Orang tua diharapkan mampu melindungi anak-anak dari ancaman era digital, tetapi tidak menghalangi potensi manfaat yang bisa ditawarkannya. Berbagai ancaman era digital yang menghantui setiap anak akan sangat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikis. Ancaman-ancaman tersebut seperti kesehatan mata anak, masalah tidur, kesulitan konsentrasi, menurunnya prestasi belajar, perkembangan fisik yang tidak optimal, sulit bersosialisasi serta tertundanya perkembangan bahasa anak (bagi balita).

4. Mendampingi Anak dan Mengatur Penggunaan Perangkat Digital

Dalam rangka mendidik anak di era digital, salah satu hal yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah mendampingi anak sebagai generasi digital serta mengatur penggunaan perangkat digital, seperti mengatur dan mengarahkan anak tentang penggunaan perangkat digital dengan komunikasi yang jelas dan efektif, mengimbangi waktu menggunakan media digital dengan interaksi di dunia nyata, meminjamkan anak perangkat digital sesuai keperluan, membantu memilih situs, program atau aplikasi positif, mendampingi dan meningkatkan interaksi dengan anak selama menggunakan media digital, menjadi contoh dalam menggunakan media digital secara bijak, dan terakhir jangan lupa untuk menelusuri berbagai aktifitas anak di dunia maya, bisa menggunakan program piranti lunak penyaring (web-filtering).

5. Penggunaan Media Digital Sesuai Usia dan Tahap Perkembangan Anak

Orang tua memberikan izin penggunaan perangkat digital kepada anak berdasarkan kesesuian usia dan tahap perkembangan anak. Pada rentang usia anak batita atau bayi di bawah tiga tahun hingga remaja usia 18 tahun, semuanya harus selalu berada pengawasan dan monitor orang tua. Salah satu contoh penting yang perlu diperhatikan orang tua terkait dengan kesesuaian usia, misalnya menghindari tayangan iklan atau program di media digital dengan konten yang tidak tepat dengan usia anak (merokok, kekerasan, pornografi, dsb) dan berbagai hal lainnya yang cenderung membawa anak-anak kepada hal yang negatif.

Setelah mengetahui berbagai rentetan fakta dan persoalan pelik serta kekhawatiran yang mungkin saja terjadi pada anak-anak di keluarga dan lingkungan sekitar kita pada zaman seperti sekarang ini, maka tidak ada pilihan lain selain membentengi anak-anak dengan pendidikan sejak usia dini sebagai bentuk perlindungan dan antisipasi dalam merespons era digital masa kini. 

Salah satu keponakan perempuan saya saat hendak berangkat ke sekolah Taman Kanak-Kanak.

Kesadaran akan pertimbangan inilah yang perlu untuk dibangun sejak dini. Selain keluarga beserta sosok orang tua di dalamnya, salah satu pihak lainnya yang tentunya dapat membantu mewujudkan antisipasi tersebut adalah institusi pendidikan, khususnya penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang juga familiar disebut pre-school

Belakangan ini, semakin menjamur institusi penyelenggara pendidikan yang berfokus pada pre-school atau khusus Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Semakin menarik dan menjanjikan, karena sekolah-sekolah tersebut bahkan mulai menerima anak berusia toddler hingga kindergarten sebagai siswa baru di sekolah mereka, dan menerapkan berbagai program dan fasilitas unggul untuk ditawarkan. Salah satu sekolah pre-school yang semakin berkembang dan banyak dijadikan rekomendasi oleh para orang tua adalah Apple Tree Pre-School BSD.

Sebagai salah satu institusi PAUD di Indonesia, Apple Tree Pre-School BSD telah memahami pentingnya pendidikan usia dini dalam merespons dan menyikapi hadirnya era digital tersebut. Lewat kurikulum pembelajaran yang modern dan terintegrasi, Apple Tree Pre-School BSD bertujuan menciptakan generasi-generasi emas bangsa yang tak hanya cerdas, namun juga berkarakter.

Sebelumnya, mari kita mengenal Apple Tree Pre-School BSD lebih dekat.

Apple Tree Pre-School mulai didirikan pada tahun 2000 dengan visi menjadi sekolah yang mendorong kepercayaan diri dan kemandirian setiap siswa. Dengan suasana lingkungan belajar yang positif dan dukungan dari orang tua murid dan guru-guru yang berdedikasi, Apple Tree bertujuan untuk membentuk dasar yang solid untuk perkembangan fisik, intelektual, sosial, dan emosional anak.

Lokasi Apple Tree Pre-School BSD yang pernah saya kunjungi beberapa waktu lalu. Ia berlokasi di Gedung EduCenter, Lantai 7, Jl. Sekolah Forest, Kavling International School, BSD City, Tangerang.

Apple Tree Pre-School BSD merupakan salah satu dari puluhan cabang Apple Tree Pre-School yang tersebar di beberapa daerah dan kota-kota besar di Indonesia. Seperti namanya, Apple Tree Pre-School BSD ini terletak di kawasan BSD City, Tangerang, tepatnya d Gedung EduCenter Lantai 7, Jl. Sekolah Forest, Kavling International School, BSD City. Pre-School ini menggunakan Adopted Singapore Curriculum dalam pembelajarannya. Dengan demikian, penggunaan Bahasa Inggris dan Mandarin telah digunakan sejak jenjang pendidikan awal sekolah. Di samping itu, Apple Tree Pre-School BSD juga merupakan sekolah yang berkomitmen dan berfokus pada pelajar muda, dan berkeyakinan dapat membuat perubahan positif dalam kehidupan setiap peserta didiknya.

Selain keunggulan pada kurikulumnya, sekolah PAUD ini juga cukup menarik karena mulai menerima siswa baru dari usia 1,5 tahun hingga 6 tahun yang kemudian terbagi ke dalam 6 jenis kelas atau jadwal belajar. Selain itu, PAUD ini juga memiliki jumlah peserta didik atau siswa yang cukup ‘ramping’ per kelasnya. Untuk kelas Toddler dan Pre-Nursery yang berusia 1,5 sampai 3 tahun, jumlah maksimal muridnya adalah 12 dan 16 orang, sedangkan untuk kelas Nursery dan Kindergarten, jumlah maksimal muridnya adalah 20 orang. Untuk lebih detailnya, silakan perhatikan penjelasan gambar di bawah ini.

Tidak cukup mengandalkan pembelajaran di dalam kelas pada kegiatan harian, Apple Tree Pre-School BSD juga menawarkan berbagai kegiatan sekolah bagi anak yang mampu menambah pengalaman dan meningkatkan kecerdasan di berbagai bidang lainnya. Berbagai kegiatan yang bisa dilakukan oleh anak-anak di Apple Tree Pre-School BSD antara lain: Waterplay, Outdoor Activities, Music and Art, Enrichment Program, Field Trips, dan School Events.

Berikut adalah daftar fasilitas atau sarana prasarana yang terdapat di PAUD Apple Tree BSD:

  • 8 Ruang kelas untuk Taman Kanak-Kanak
  • 2 Ruang kelas untuk Taman Bermain (toddler)
  • 1 Ruang terbuka hall
  • WC anak laki-laki dan perempuan terpisah
  • Ruang Perpustakaan
  • Ruang Pementasan (Apple Town)
  • Kolam Renang
  • Jogging Track
  • Garden
  • Playground
  • Cafe dan Foodcourt untuk orang tua dan wali pengantar
  • Parkiran 2 lantai basement

Dan terakhir, terlampir di atas adalah salah satu testimoni jujur tentang Apple Tree Pre-School oleh salah satu orang tua atau wali murid yang saya temukan di kolom komentar artikel Pre-School Terbaik di BSD City dan Serpong 2019 yang diunggah pada halaman website EduCenter.

Bagaimana? Apple Tree Pre-School cukup menarik dan menjanjikan sebagai rekomendasi PAUD tempat belajar bagi anak-anak Anda, bukan?

Dengan segala keunggulan dan nilai plus yang dimiliki, kehadiran Apple Tree Pre-School juga bisa menjadi solusi guna menyikapi hadirnya era digital di relung kehidupan masa kini. Kesadaran akan pentingnya pendidikan anak usia dini inilah yang selalu digalang dan disuarakan oleh Apple Tree Pre-School BSD sehingga membuatnya menjadi rekomendasi pilihan.

Namun pada akhirnya, kita semua juga harus sepakat dan menyatukan suara bahwa tujuan pendidikan anak usia dini haruslah untuk mengaktifkan keinginan alami seorang anak untuk belajar. Maka, selain peran institusi PAUD yang berkualitas seperti Apple Tree Pre-School BSD, pastinya peran orang tua dan keluarga sangatlah sentral dalam tumbuh kembang anak demi mempersiapkan masa depan yang gemilang. 


Nah, tunggu apa lagi? Bagi Anda yang berdomisili di Jabodetabek, khususnya BSD, Serpong, dan Tangerang, dan sudah waktunya untuk mendaftarkan sang buah hati untuk sekolah PAUD, jangan ragu untuk berkunjung dan mendaftar di PAUD keren ini ya. Beruntungnya, Anda juga bisa mendapatkan diskon sebesar 40% jika hadir di acara Open House Apple’s Neighbourhood pada 7 September 2019 ini. Bisa dilihat pada gambar poster di atas. Menarik, bukan? Silakan hadir dan jangan sia-siakan ya. smile

#AppleTreeBSD

Sumber Referensi: 


 

How many stars for this post?

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This

Share This

Share this post with your friends!

error: Oops! Sorry. The content is protected :)