“Iya, Ustadz (panggilan terhadap guru di lingkungan pondok pesantren). Saya memang sudah bernazar ingin bergabung dengan komunitas mengajar dan mengabdi di daerah terpencil Indonesia, khususnya di Flores, NTT, kalau ketika haflah (wisuda/pelepasan) saya termasuk ke dalam wisudawan yang mendapatkan yudisium Syarof (Cumlaude). Dan Alhamdulillah, harapan saya itu terkabul ketika wisuda kemarin. Insya Allah, saya akan mewujudkan nazar saya pada bulan Juli atau Agustus tahun ini. Mohon doanya ya, Ustadz.”

Deretan kalimat penuh harap dan antusias itu keluar dari mulut seorang murid kelas akhir (kelas 12) tingkat SMA, beberapa hari setelah acara pelepasan usai ia sempat mengatakannya kepada saya. Saya memang pernah mengajarnya ketika ia masih duduk di tingkat SMP. Dan sebagai seorang guru yang pernah membimbing dan mengajarnya, pastinya saya merasa bangga atas niat mulia yang ingin ia wujudkan. 

Kata-kata yang ia sampaikan juga membuat pikiran saya menerawang ke masa lalu. Sesuram ingatan saya, diri ini pun pernah berkeinginan hal yang sama, yaitu untuk mengajar dan mengabdi di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Bagi saya hal tersebut cukup menantang dan tentu saja akan memberikan pengalaman hidup yang luar biasa bermanfaat. Namun, seiring berjalannya waktu keinginan tersebut seolah tergerus oleh rutinitas lalu menghilang dari pelupuk angan. Kalah akan situasi dan keadaan. 

Berbicara tentang daerah terpencil di Indonesia, sesekali saya memang sempat berpikir dan merenung membayangkan bagaimana rasanya hidup di luar pulau Jawa, khususnya di daerah-daerah tertinggal, daerah perbatasan atau daerah terpencil lainnya yang berada jauh dari suasana hiruk pikuk kehidupan ibu kota negara, provinsi atau kota lainnya. Memikirkan bagaimana menjalani kehidupan di daerah-daerah tersebut dengan keterbatasan akses dan kekurangan fasilitas seperti yang masih banyak diberitakan di televisi, koran dan media informasi lainnya. Mengingat setelah 73 tahun kemerdekaan Republik ini, pemerintah beserta jajaran tinggi negara seolah masih terbujur kaku dan merangkak secara perlahan dalam mewujudkan sila kelima Dasar Negara Pancasila: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Citra wilayah perbatasan tak boleh dianggap sebagai dapur, melainkan sebagai beranda atau teras bagi negara. Sebagai daerah terdepan bagi rumah kita yang berfungsi menyambut tamu.” (Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDT)

Wilayah-wilayah terpencil dan terluar yang tersebar seantero nusantara biasanya dikenal dengan sebutan Daerah 3T yang ditujukan untuk daerah tertinggal, terdepan dan terluar di Indonesia. Sebagian besar daerah 3T memang menjadi gerbang tapal batas Indonesia alias wilayah perbatasan negara. Letak daerah yang berada jauh dari ibu kota provinsi membuat pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat dikarenakan pembangunan infrastruktur yang belum merata.

Sebagai contoh, Papua merupakan provinsi yang memiliki daerah tertinggal paling banyak di Indonesia. Berdasarkan data yang dirilis oleh Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja (Binapenta) pada tahun 2015, jumlah daerah tertinggal di Papua mencapai 26 daerah. Antara lain: Merauke, Kepulauan Yapen, Boven Digoel, Waropen, Yalimo, Deiya dan daerah-daerah lainnya. Provinsi yang merupakan salah satu penghasil emas terbesar di dunia tersebut justru terdapat daerah tertinggal paling banyak.

Sumber: https://databoks.katadata.co.id/

Lalu bagaimana dengan data terbaru? Sepanjang tahun 2014-2018, Badan Pusat Statistik (BPS) memang mencatat adanya penurunan jumlah daerah desa yang tertinggal, yaitu sebanyak 6.518 desa. Dalam arti lain, maka ada 6.518 desa yang statusnya berubah, tidak lagi menjadi desa tertinggal. Berdasarkan data yang dirilis oleh BPS pada Desember 2018 tersebut, jumlah desa tertinggal saat ini adalah sebanyak 14.461 desa. Atau jika dipresentasikan adalah sebesar 19,17% dari seluruh desa yang ada di Indonesia. Meskipun sudah cukup besar mengurangi angka desa yang tertinggal, namun masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemerintah. Sebab jumlah desa tertinggal masih cukup tinggi, khususnya Papua dan Kalimantan yang memiliki daerah 3T terbanyak.

Namun di sisi lain, daerah 3T sebenarnya juga menyimpan keelokan yang sudah tidak dimiliki oleh daerah lain dengan peradaban modernnya yang tinggi, diantaranya kekayaan budaya yang menjadi ciri khas dan keunikan masing-masing daerah. Kearifan lokal dan budaya masih sangat dijunjung di daerah-daerah 3T. Tidak jarang, kita juga akan disuguhkan oleh berbagai macam tempat pariwisata yang elok nan indah dan tidak bisa kita temukan di daerah dengan peradaban teknologi yang tinggi.

Keindahan alam yang memesona di daerah 3T

Hal ini tentu saja menjadi point plus dan menjadi modal bagi daerah 3T untuk mengembangkan berbagai potensi yang ada agar menjadi daerah maju dengan memanfaatkan kearifan lokal. Tentu saja untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan kerjasama dan kesadaran kita sebagai sesama bangsa Indonesia untuk saling bahu membahu.

Dengan sebutannya sebagai ‘teras’, ‘beranda’ atau bahkan ‘pekarangan’ nusantara, sudah sepatutnya daerah 3T, khususnya perbatasan negara mendapatkan perhatian lebih dalam berbagai bidang pembangunan agar mampu berkembang dan menjadi daerah yang lebih tertata sehingga tampak siap dan rapi dalam menyambut ‘tamu’ dari negeri-negeri tetangga. Bukan justru sebaliknya, daerah 3T sebagai daerah terdepan nusantara malah dianggap memiliki citra seperti ‘dapur’ yang terkesan ‘berantakan’ dan tidak sedap dipandang.

Di balik kebutuhan dan keinginan yang besar untuk membangun daerah 3T sebagai ‘teras’ negara Republik Indonesia, ada usaha yang pastinya tidak mudah bagi pemerintah dan juga masyarakat. Faktanya, membangun usaha berbasis lingkungan memang bukan perkara yang mudah. Apalagi jika dibangun di wilayah perbatasan yang infrastrukturnya belum memadai.

Sistem otonomi daerah memang sudah berjalan hampir dua dekade di Indonesia dan telah membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan kebijakan lokal secara bijaksana. Namun implementasi kebijakan tersebut belum maksimal diterapkan karena keberadaan daerah-daerah otonom baru tidak diiringi dengan kapasitas sumber daya manusia dan finansial yang memadai. Dengan demikian banyak terjadi keterlambatan dalam pembangunan terutama pembangunan infrastruktur.

Demi mewujudkan citra dan cita-cita daerah 3T sebagai ‘beranda’ atau ‘teras’ nusantara, pemerintah melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDT) telah menyusun beberapa program dan kebijakan untuk pembangunan daerah perbatasan. Salah satu program pemerintah adalah dengan mengajak pelaku usaha atau pihak swasta untuk berinvestasi di daerah perbatasan. Dengan meningkatnya investasi, maka diharapkan akan sejalan dengan pembangunan daerah tersebut.

Setidaknya ada tiga hal yang membuat peran pihak swasta sangat diharapkan oleh pemerintah dalam rangka membangun daerah 3T, antara lain: masalah keterbatasan dana dan anggaran, efisiensi dan efektivitas pemerintahan, dan pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat. Sebagai suatu daerah yang baru berkembang tentunya pemerintah daerah tidak dapat mengandalkan sumber daya yang ada (keuangan dan SDM), sehingga pemerintah butuh menarik pihak swasta untuk melakukan investasi tidak hanya dalam bentuk dana tetapi juga  peningkatan skill  SDMnya untuk membangun dan memelihara infrastruktur yang belum dan sudah tersedia dalam rangka menyejahterakan masyarakat.

Beruntunglah, pihak swasta pun menyambut baik usaha pemerintah dan turut berperan aktif dalam membangun daerah 3T di pelosok nusantara. Ada beberapa perusahaan swasta yang ikut berperan aktif membangun daerah tertinggal, salah satu yang dapat dijadikan contoh sukses adalah KORINDO

Siapa yang tidak mengenal KORINDO?

KORINDO adalah perusahaan Indonesia yang menempatkan fokus utamanya di bidang pengembangan sumber daya alam. Setelah melalui berbagai tantangan yang pernah dialami sejak berdiri pada tahun 1969 dan beroperasi selama 48 tahun, KORINDO kini berkembang menjadi salah satu perusahaan dengan peringkat tertinggi di negeri ini. 

Sepanjang eksistensinya sebagai salah satu perusahaan besar, banyak produk yang telah dihasilkan oleh KORINDO, bermula dari pengembangan hardwood yang kemudian beralih ke plywood/veneer pada tahun 1979, kertas koran di tahun 1984, perkebunan kayu di tahun 1993, perkebunan kelapa sawit di tahun 1995. Hingga kini, berbagai produk bisnis terus dikembangkan oleh KORINDO, mulai dari Perkebunan (Kayu, Kelapa Sawit, Karet), Produk Kertas dan Kehutanan, Konstruksi dan Industri Berat, Logistik, Layanan Finansial serta Real Estat. 

Dalam rangka mewujudkan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik, KORINDO juga menunjukkan kepeduliannya kepada pemerintah dan masyarakat dengan berupaya untuk membangun pengembangan berkelanjutan serta berkontribusi terhadap pembangunan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) dengan memberdayakan kegiatan CSC/CSR (Corporate Social Contribution/Corporate Social Responsibility) yang berfokus pada program-program yang strategis, sistematis, dan berkelanjutan melalui 5 pilar program utama, yaitu Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Lingkungan dan Infrastruktur/Sosial Budaya. 

Upaya yang dilakukan ini sejalan dengan visi dan misi serta sesuai dengan filosofi perusahaan yaitu membangun hubungan yang harmonis, menguntungkan, dan berkelanjutan antara masyarakat dan para pemangku kepentingan demi mencapai kemajuan dan kesejahteraan.

Mari kita saksikan sejenak kilas balik Corporate Social Contribution (CSC/CSR) KORINDO Group tahun 2018.

Ikhtiapemerintah untuk bangun perbatasan jadi terasnya Indonesia pun mendapatkan respon yang positif dan luar biasa dari KORINDO sebagai perusahaan swasta. KORINDO menjadi salah satu contoh sukses bagi perusahaan swasta dalam membangun investasi kondusif di daerah perbatasan, yakni di Boven Digoel dan Merauke, Papua. Meski masih minim infrastruktur, KORINDO sukses membangun usaha dan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat sekitar. 

Bentang alam Papua yang luas, subur, dan kebanyakan masih belum dimanfaatkan secara maksimal serta kebudayaan yang juga masih sangat kental dan original, cukup menjadi alasan kuat bagi KORINDO mengembangkan konsep industri yang ramah lingkungan melalui pembangunan bidang kehutanan dan perkebunan kelapa sawit. Melalui pembangunan industri tersebut Korindo berkontribusi menyerap tenaga kerja terutama di Papua yang telah menyerap 10.000 tenaga kerja. Faktanya, industri kehutanan memang menjadi penyumbang terbesar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Papua, selain industri pertambangan.

Sumber Foto: https://www.korindo.co.id

Berbagai kontribusi lainnya terus diupayakan oleh KORINDO melalui CSC/CSR dengan 5 pilar program utamanya yang dibangun dan dikembangkan di Desa Asiki, Kabupaten Boven Digoel. Dalam bidang pendidikan, KORINDO menyadari bahwa kualitas pengembangan sumber daya manusia merupakan salah satu kunci kesuksesan di dalam pengembangan yang berkelanjutan. Untuk itu, KORINDO Grup memberikan bantuan pengembangan di bidang pendidikan dalam bentuk pendanaan, penyediaan fasilitas belajar, bus sekolah serta fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK) bagi siswa SMA yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Sumber Foto: https://www.korindo.co.id

Selain itu, masalah kesehatan pun menjadi hal penting yang menjadi sorotan KORINDO. Sejak tahun 1994, KORINDO telah mendirikan klinik Asiki. Untuk menjangkau penduduk wilayah terpencil dan membangun gaya hidup sehat, KORINDO Grup juga memberikan penyuluhan kesehatan melalui dokter keliling serta menyediakan mobil ambulans dan layanan kesehatan gratis setiap dua pekannya. Melalui sejumlah kegiatan ini, masyarakat mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan imunisasi serta obat-obatan secara gratis untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit.

Sumber Foto: https://www.korindo.co.id

Sejujurnya, nama perusahaan KORINDO sangatlah tidak asing di telinga dan mata saya secara pribadi. Bagaimana tidak? Sejak kecil dulu saya dan keluarga sudah berdomisili di daerah Kabupaten Tangerang, tepatnya di Desa Gembong Kecamatan Balaraja yang tidak lain juga merupakan alamat daerah salah satu cabang atau plant perusahaan besar ini berdiri. Lebih tepatnya, perusahaan di dekat tempat tinggal saya itu bernama PT. Korindo Heavy Industry, Balaraja Plant.

Bangga rasanya ketika mengetahui perusahaan besar ini memiliki kontribusi yang cukup banyak terhadap pembangunan di daerah-daerah tertinggal nusantara, termasuk besarnya kontribusi KORINDO dalam menyerap tenaga kerja sehingga menjadikannya sebagai sumber penghidupan dan mata pencaharian keluarga di masyarakat. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, KORINDO telah menyerap lebih dari 10.000 tenaga kerja melalui pembangunan industri bidang kehutanan dan perkebunan kelapa sawit di Papua. Semakin bangga, beberapa anggota keluarga saya pun ikut terlibat untuk bekerja dan memberikan segenap pikiran dan tenaga mereka untuk perusahaan besar ini, namun bukan di Papua tentunya, melainkan di PT. Korindo Heavy Industry, Balaraja Plant yang terletak tidak jauh dari rumah kami.

Tugu Tulisan di Pintu Gerbang Utama PT. Korindo Heavy Industry, Balaraja Plant

KORINDO memang sudah menjadi tempat keluarga saya mencari nafkah sejak beberapa tahun silam. Berbeda dengan saya yang berprofesi sebagai seorang Guru Swasta dan Blogger, sebagian besar anggota keluarga saya justru bekerja sebagai tenaga kerja atau buruh, empat di antara mereka pernah bekerja dan masih aktif bekerja di PT. Korindo Heavy Industry, Balaraja PlantAdik perempuan saya saat ini masih aktif bekerja sebagai Staf Admin Quality Control (QC) Special Vehicle, lalu ada juga kakak ipar saya pun masih aktif bekerja sebagai Ketua Koordinator Security. Sedangkan dua yang lainnya, kakak perempuan dan kakak laki-laki dahulu pernah bekerja, masing-masing sebagai Staf Human Resource-General Affair (HR-GA) dan Operator Construction Structure

Adik saya, Irma dan tempatnya bekerja di gedung office PT. KORINDO Heavy Industry, Balaraja Plant.

Keberadaan KORINDO di dekat lokasi tempat tinggal kami memang membawa berkah dan membuka peluang bagi para pencari rezeki. Karena banyaknya anggota keluarga saya yang bekerja di KORINDO, maka tidak berlebihan tentunya jika pada akhirnya saya pun menyebut KORINDO sebagai ‘rumah kedua’ bagi keluarga saya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dengan segala upaya yang dilakukan oleh KORINDO dalam berkontribusi membangun daerah perbatasan menjadi ‘teras’ nusantara, sepatutnya membuat siapapun tersadar bahwa Indonesia itu luas dan masih banyak masyarakat Indonesia lainnya yang hidup di sudut-sudut daerah tertinggal dan belum merasakan sentuhan pembangunan bangsa yang merata. 

Kita sepenuhnya belajar dari KORINDO bahwa siapapun dapat berperan dan memberikan kontribusi yang besar dan nyata dalam mengembangkan daerah 3T di pelosok nusantara, terutama bagi pihak-pihak swasta. Bukan hanya sekadar cuap-cuap dan mengumbar janji semata. KORINDO pun seolah menjadi bukti autentik bahwa pemerintah, pihak swasta dan juga masyarakat lokal mampu bersinergi dan saling bergotong-royong membangun daerah tertinggal. 

Selain itu, KORINDO bagi saya pribadi pun menorehkan kesan yang tidak bisa dianggap biasa. Keberadaan salah satu industrinya yang berada dekat dengan tempat tinggal saya membuatnya menjadi ‘rumah kedua’ dan sumber penghidupan bagi keluarga sejak beberapa tahun silam hingga kini.

Terima kasih KORINDO atas sumbangsih, kontribusi dan inspirasi yang disebarkan. Semoga daerah-daerah tertinggal, terdepan dan terluar di seluruh pelosok nusantara terus berkembang sehingga keadilan sosial yang sedari dulu telah digemakan oleh para pejuang kemerdekaan benar-benar dapat dirasakan secara merata dan utuh oleh seluruh masyarakat di Indonesia tanpa terkecuali.

 

Sumber Referensi:

 

Disclaimer:

Tulisan ini diikutsertakan dalam KORINDO Blog Competition “Membangun Daerah 3T” yang diselenggarakan oleh PT. KORINDO. Beberapa foto merupakan dokumentasi pribadi penulis dan beberapa lainnya didapatkan dari sumber-sumber yang telah tercantum di atas, sedangkan video bersumber dari situs YouTube dengan nama channel KORINDO Group. 

How many stars for this post?

10 Komentar

Arda Sitepu · Mei 16, 2019 pada 11:12 am

Peran serta Korindo dalam membangun negeri memang luar biasa ya Mas. Semoga semakin berinovasi dalam membangun daerah 3T.

Like it?

    Firmansyah · Mei 16, 2019 pada 12:02 pm

    Betul, Mbak. Ada kebanggaan tersendiri melihat kontribusi yang ditorehkan oleh KORINDO terhadap daerah 3T. Karena KORINDO sudah layaknya ‘rumah kedua’ bagi keluarga saya.

    Like it?

Amir · Mei 16, 2019 pada 3:55 pm

Ternyata Korindo ada di Tangerang yah. Tak kira di Papua

Like it?

    Firmansyah · Mei 16, 2019 pada 8:49 pm

    Iya, Mas. Banyak kok tersebar di beberapa wilayah. Kalau tidak salah, di websitenya pun ada.

    Like it?

Adhi Nugroho · Mei 17, 2019 pada 8:58 am

Artikelnya apik. Deret gagasan yang dibangun pun sangat logis dan mengalir. Sekalipun informasinya padat dan berbobot, namun artikel ini tetap ringan dan nikmat dibaca. Saya terkejut (bukan terkejoed), ternyata KORINDO telah menjadi bagian dari keluarga Mas Firman. Saya jadi membayangkan raut wajah Mas Firman yang semringah ketika menulis artikel ini.

Saya turut mendoakan, semoga artikel ini meninggalkan kesan mendalam bagi juri. Kesan yang indah tentunya.

Salam hangat.

Like it?

    Firmansyah · Mei 17, 2019 pada 5:02 pm

    Alhamdulillah. Terima kasih, Mas Adhi. Senang rasanya mendapatkan respon dan komentar baik dari seorang blogger panutan seperti Mas Adhi. Aaamiiin. Semoga tulisannya bermanfaat bagi KORINDO dan para pembaca.

    Salam hangat kembali untuk Mas Adhi dan keluarga.

    Like it?

FERIALD · Mei 17, 2019 pada 10:08 pm

Semakin suka dengan gaya bahasa yang asyik dari Bang Firman (rd : Ustadz Firman) banyak kata-kata baru yang saya pelajari. Semakin mengalir tulisannya. Btw, Korindo baru di telinga saya, tetapi kontribusinya ternyata sudah lama di daerah 3T. Semoga semakin maju semua daerah 3T di Indonesia. Memang perlu adanya peran swasta yang membantu perkembangan daerah 3T. Good luck, Pak Ustadz!

Like it?

    Firmansyah · Mei 18, 2019 pada 12:49 am

    Terima kasih, Kang Ferry. Alhamdulillah, kalau gaya bahasa tulisannya ada yang suka. Hehe …
    Aaamiin. Betul sekali ya, Kang. Peran swasta sangat sentral juga terhadap perkembangan daerah 3T. Good luck juga untuk Kang Ferry! (read: Aba) 😀 😀

    Like it?

Joe Candra · Mei 23, 2019 pada 2:49 am

Sama bang. Ane juga dulu pengen ikutan program2 mengajar gitu, kbtulan dulu pengennya di Kalimantan tp gak dibolehin ortu, yasudah mau gmn again. Hehehe

Like it?

    Firmansyah · Mei 25, 2019 pada 8:51 am

    Wah, ternyata pernah berkeinginan yang sama juga ya, Bang. 😀
    Tidak apa-apa. Bagus kok mengikuti restu dan rida orang tua. 🙂

    Like it?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
error: Oops! Sorry. The content is protected :)