Halo Sobat Bang Firman’s Blog ..

Seminggu yang lalu, sekitar pukul 19.00 WIB aku pergi mengantarkan salah satu teman bloggerku dengan sepeda motor ke Stasiun Commuter Line Tigaraksa untuk menuju ke Jakarta. Ia memang sudah 2 hari bersamaku. Ia menyempatkan diri untuk mampir ke tempatku di Tangerang, karena ia baru saja datang dari Malaysia dan Singapura untuk kegiatan proyek sekaligus liburan bersama client dan beberapa blogger dan penulis media online lainnya yang juga turut diundang mengikuti kegiatan di sana.

Sesaat setelah mengantarkannya masuk ke dalam Stasiun, aku pun merogoh smartphoneku di dalam saku celanaku, kemudian menelepon Uni Rita, kakak pertamaku.

“Uni … Imam lagi di Stasiun nih, nganter temen yang mau pergi ke Jakarta. Nanti pulang dari Stasiun, Imam mampir ke rumah Uni ya. Mau numpang istirahat, kurang enak badan.” ucapku di ujung telepon kepada Uni Rita.

“Oh iya mampir aja ke sini. Biasanya juga Imam mampir. Yaudah Uni tungguin di rumah ya.” ucap Uni Rita sebelum menutup teleponnya.

Oh iya, walau namaku Firman, tetapi semenjak kecil nama panggilanku di keluarga adalah Imam. Entah mengapa bisa begitu, kakak-kakakku selalu berkata mungkin ada do’a terselip dibalik nama panggilan itu bahwa semoga aku bisa menjadi sosok Imam atau pemimpin yang baik, tentu aku pun mengamininya, setidaknya aku bisa menjadi Imam yang baik bagi istri dan keluargaku kelak. Aamiin.

Keluarga besar dengan keponakan-keponakanku yang lucu.

Satu lagi, mungkin di antara kalian ada yang merasa asing dengan sebutan “Uni”. Sebutan “Uni” memang ditujukan untuk kakak perempuan dalam bahasa Minang. Ya betul, tidak salah lagi. Keluargaku memang asli keturunan ranah Minangkabau atau Sumatera Barat. Lebih tepatnya, Baba (panggilan kami kepada Ayah) berasal dari Bukittinggi dan Mama berasal dari Padang Panjang.

Back to the story before …

Jadi, setelah selesai mengantarkan temanku ke Stasiun, akhirnya aku sampai di rumah Uni Rita dan tanpa panjang lebar aku pun meminta untuk menginap di rumahnya karena kondisi tubuhku yang tidak fit. Aku meriang, merasakan panas dingin serta pusing yang luar biasa ditambah pegal-pegal yang kurasakan di sekujur tubuh. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah “Aku ingin berbaring dan istirahat total”.

Aku pun menyerah dan memilih untuk izin tidak mengajar di sekolah selama 2 hari untuk beristirahat dan menginap di rumah Uni Rita.

Dari kiri ke kanan: Uni Ira, Uni Rita dan adikku Irma.

Terkadang aku merasa malu, di usiaku saat ini aku masih saja mengandalkan kakak pertama dan keduaku untuk berbagai urusan pribadiku, seperti ketika saat aku jatuh sakit kemarin. Tapi, di sisi lain aku justru merasa bangga dan bersyukur karena memiliki mereka dalam hidupku. Merekalah dua sosok Srikandi atau pahlawan yang nyata dalam sudut pandangku.

Uni Rita adalah anak dan kakak pertama di keluarga. Sedangkan Uni Ira adalah anak sekaligus kakak kedua, usia mereka berdua hanya berpaut 1 tahun. Setelah wafatnya Baba dan Mama pada tahun 2002, praktis Uni Rita dan Uni Ira berperan menjadi tulang punggung utama keluargaku.

Aku bersama Si Bontot, Irma saat sesi foto bersama setelah aku diwisuda S1

Ya, aku memang sudah menjadi Yatim Piatu sejak tahun 2002, tepatnya ketika usiaku menginjak 11 tahun. Beruntungnya, aku memiliki 5 orang saudara kandung dan aku adalah anak kelima. Jika diurutkan, maka urutannya adalah Uni Rita, Uni Ira, Bang Rio, Bang Ade, Firman dan Irma

Uni Rita dan Uni Ira sebagai dua anak tertua di keluarga sudah kami anggap seperti Orang Tua sendiri, khususnya bagiku dan adikku, Irma. Wajar saja, kala itu aku dan Irma yang masih berusia 7 tahun tentunya masih sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian orang tua.

Foto saya dengan Uni Rita, Tahun 2009.

Uni Rita dan Uni Ira, keduanya adalah sosok wanita yang pekerja keras dan rela berkorban. Mereka rela mengorbankan masa muda untuk bekerja sebagai buruh demi membantu Baba dan Mama untuk menghidupi kami sekeluarga. Mereka juga merupakan sosok yang sangat mencintai dan menyayangi adik-adiknya, mereka selalu sabar menghadapi tingkah adik-adiknya dan senantiasa menasihati kami selalu.

Masih terekam sangat jelas di memori ingatanku bagaimana Uni Rita dan Uni Ira dengan bangganya mempersembahkan hadiah kepada Baba dan Mama saat mereka menerima gaji pertamanya dulu. Membelikan seperangkat perlengkapan rumah untuk menghiasi dan memenuhi kebutuhan rumah kami yang sederhana saat itu.

Uni Ira, Kakak Ipar dan Keponakanku saat menghadiri acara wisudaku. Sumber: Akun Instagramku @fman_firmansyah

Khusus untuk Uni Ira, setelah Uni Rita menikah beberapa bulan pasca wafatnya Baba dan Mama. Aku dan Irma akhirnya ikut tinggal bersama Uni Ira di sebuah kontrakan petak sederhana. Menjalani masa-masa sulit menjadi seorang anak Yatim Piatu, namun hidup harus tetap berjalan dan aku tetap melanjutkan sekolah dengan dibiayai oleh Uni Ira, Uni Rita dan terkadang juga mendapat bantuan dari saudara-saudara serta orang-orang dermawan lainnya.

Hidup di kontrakan sederhana bersama Uni Ira dan Irma membuatku memiliki kedekatan yang lebih dengan mereka berdua. Uni Ira menjadi tempatku bercerita, tempatku berkeluh kesah dan juga tempatku bertanya tentang pelajaran sekolah atau hal-hal baru yang belum aku ketahui. Bertahun-tahun hidup bersama Uni Ira hingga akhirnya ia pun menikah, aku dan Irma tetap ikut tinggal bersama Uni Ira beserta keluarga kecil barunya.

Bersama Uni Rita, Uni Ira, Irma dan 2 Keponakanku

Semakin aku dewasa, tentunya aku semakin merasa dan menyadari betapa besarnya jasa dan pengorbanan Uni Ira dan Uni Rita bagi hidup adik-adiknya, khususnya aku secara pribadi. Sifat rela berkorban, kerja keras dan penyabarnya lah yang membuat Uni Rita dan Uni Ira selalu dicintai dan disayangi oleh adik-adiknya dan menjadikan mereka berdua sebagai sosok seorang kakak sekaligus Srikandi di keluarga yang patut diteladani oleh siapapun.

We love you, Uni…. Do’a dan harapan terbaik selalu dipanjatkan #BuatKamu. 🙂

Kini, kami semua telah dewasa dan mulai menjalani kehidupan masing-masing. Dari 6 bersaudara, kini hanya tinggal aku dan Irma yang belum berkeluarga. Aku pun tidak ingin menyia-nyiakan waktuku selama belum berkeluarga ini dengan terus menjaga komunikasi dan silaturahmi di antara kami. 

Beruntungnya, aku #pakeTCASH selama beberapa tahun terakhir ini. Bahkan bisa dibilang aku sudah mulai #pakeTCASH sejak TCASH baru dirilis pada tahun 2015 yang lalu. Alhamdulillah tidak terasa sudah 3 tahun kebersamaanku bersama TCASH, sampai sekarang aku masih setia #pakeTCASH karena TCASH selalu hadir dengan segala kemudahan dan keuntungan dari beragam bentuk layanan yang ditawarkan. Salah satunya, TCASH mempemudah komunikasiku dengan Uni Rita dan Uni Ira.

Melalui beragam jenis layanan transaksi non-tunai TCASH special #BuatKamu, aku biasanya memanfaatkan uang elektronik TCASH untuk memberikan paket pulsa kepada Uni Rita, Uni Ira dan yang lainnya demi mendukung komunikasi dengan mereka. Semoga rezekiku selalu lancar sehingga aku bisa berkomitmen untuk rutin mengirimkan pulsa kepada mereka. Aamiin.

Saat mengirimkan pulsa ke Uni Ira dengan TCASH

Saat mengirimkan pulsa ke Uni Ira dengan TCASH

Bersyukurnya, TCASH selalu hadir mempermudah segala urusanku, termasuk urusan pembelian pulsa untuk Uni Rita dan Uni IraCara beli pulsa TCASH sangat mudah melalui aplikasi TCASH Wallet di smartphoneku. Jadi, aku tidak perlu ribet mencari toko counter pembelian pulsa atau mengunjungi ATM untuk mengirimkan mereka pulsa.

Cara membeli pulsa di TCASH Wallet

Cara beli pulsa atau paket kuota data di TCASH Wallet:

  • Pilih menu beli pulsa / kuota pada halaman utama
  • Pilih tujuan pengisian pulsa / kuota. Bisa ke nomor sendiri atau orang lain
  • Pilih nominal pulsa / kuota yang ingin diisikan
  • Masukkan PIN untuk konfirmasi dan menyelesaikan transaksi
  • Setelah selesai, akan ada notifikasi masuk di aplikasi atau pun SMS yang memberitahukan bahwa transaksi sukses dan pulsa telah terkirim

Oktober lalu, ketika berada di CGV Cinemas memanfaatkan promo buy 1 get 1 ticket dengan TCASH

Kesetiaanku bersama TCASH bukan tanpa alasan lho. Selain mempermudah urusan komunikasiku bersama Uni Rita, Uni Ira dan keluarga, TCASH juga sering memanjakan para penggunanya dengan berbagai macam promo menarik yang ditawarkan oleh berbagai Merchant TCASH. Ada promo yang berbentuk diskon hingga 50%, cashback mulai 10% sampai 50%, promo buy 1 get 1,  promo harga spesial, dan berbagai promo menarik lainnya. Pastinya, aku selalu memanfaatkan promo-promo tersebut untuk keperluan pribadi, mentraktir keluarga dan teman atau sekedar have fun dan memuaskan hasrat jajan atau belanja. 

Aku juga seringkali mempromosikan kemudahan dan keuntungan promo yang aku rasakan dari merchant TCASH tersebut di media-media sosial, seperti status di Whatsapp atau snapgram di Instagram. Seperti ketika ada promo kerjasama TCASH dan CGV Cinemas yaitu promo buy 1 get 1 ticket yang berlangsung dari Juni hingga Oktober 2018 yang lalu. Seru dan untung banget, kan? 🙂

Selain promo menonton di bioskop, aku juga sering memanfaatkan promo dari marchant-merchant lainnya, seperti McDonald’s, Jco Donuts, BreadTalk, Chatime, Starbucks, Indomaret, bahkan tukar Telkomsel Poin jadi saldo TCASH, dan masih banyak lagi. Menarik banget, kan?

Tampilan halaman login TCASH 2 tahun lalu

Selama 3 tahun menggunakan TCASH, aku selalu merasakan kemudahan, kepuasan dan keuntungan yang diberikan TCASH dengan layanan-layanannya yang bermanfaat serta menguntungkan. Dengan alasan ini, aku pun tidak ragu mengajak orang-orang di sekitarku untuk menggunakan TCASH, apalagi mulai tahun 2018 ini TCASH tidak hanya bisa digunakan oleh pengguna Telkomsel saja lho, melainkan bisa juga digunakan oleh semua provider. Wah, keren banget. Sekarang, semuanya bisa #pakeTCASH. 🙂

Kalau ditanya kenapa sih aku #pakeTCASH? Apa sih untungnya? Nah, sudah pasti ini dia alasanku kenapa #pakeTCASH

Nah, begitulah pengalaman serta kesan yang aku rasakan selama 3 tahun ini menggunakan TCASH. Untuk kamu yang memang pengguna Telkomsel, tunggu apa lagi? Ayo manfaatkan TCASH ini sebagai uang elektronik di smartphone kamu, karena banyak manfaat dan keuntungan yang bisa kamu raih.

Dan buat kamu pengguna provider lain, seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa mulai tahun 2018 ini TCASH juga sudah bisa digunakan untuk semua provider. Jadi, jangan ragu untuk menggunakan TCASH ya. Karena TCASH hadir #BuatKamu dengan layanan-layanannya yang mudah, bermanfaat dan menguntungkan.

Kebetulan masih dalam momentum Hari Pahlawan Nasional, aku pun menuliskan surat kecil istimewa untuk Uni Rita dan Uni Ira sebagai ungkapan rasa terima kasih atas kerja keras dan pengorbanannya selama ini. Aku memang tidak mahir dalam merangkai kata-kata yang puitis, hanya bermodal kata-kata yang apa adanya. Jadi, seperti inilah surat kecil yang kutuliskan untuk Uni Rita dan Uni Ira.  

Teruntuk Uni Rita dan Uni Ira,

Yang Tersayang

Imam ucapkan Selamat Hari Pahlawan untuk Uni berdua

Karena bagi Imam, Uni Rita & Uni Ira adalah sosok Duo Srikandi di keluarga kita

Sosok pahlawan yang nyata dan hadir di hadapan mata

Uni…

Terima kasih atas kerja keras dan pengorbanan Uni selama ini. Begitu banyak budi dan jasa yang telah Uni lakukan untuk keluarga kita dari semenjak Alm. Baba dan Almh. Mama masih hidup, hingga saat ini. Sosok Uni begitu berarti dan berharga bagi kita semua, Adik-adikmu.

Uni…

Tetaplah menjadi sosok Uni Rita dan Uni Ira yang Imam kenal selama ini, maafkan adikmu ini jika selalu membuat Uni khawatir, jengkel, marah dan lain sebagainya. Mohon doakan Imam agar selalu diberikan kesehatan dan bisa terus membanggakan keluarga. Aamiin…

Uni…

Semoga pulsa yang selalu Imam kirimkan dapat bermanfaat untuk menjaga komunikasi dan silaturahmi di antara kita semua.

Bagaimana pun keadaannya, kita harus selalu menjalin komunikasi dan hubungan persaudaraan dengan baik

Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang oleh Allah SWT. Aamiin.

Selamat Hari Pahlawan Uni Rita & Uni Ira … 🙂

Adikmu yang selalu menyayangimu

Imam

Disclaimer:

“Tulisan ini diikutsertakan dalam “Kompetisi Blog TCASH #BuatKamu“. Seluruh referensi tulisan dan gambar adalah pengalaman dan dokumentasi pribadi penulis serta dari situs resmi www.tcash.id. 

How many stars for this post?

18 Komentar

Adhi Nugroho · November 12, 2018 pada 12:09 am

Yang malem-malem dianterin ke commuter line kayanya aku tau, deh. Hahaha.

Anyway, senangnya bisa berkomunikasi dengan lancar dengan Uni-nya ya, Mas. Semoga duo srikandi sehat-sehat selalu. Sukses juga untuk lombanya. Salam hangat selalu, dan kapan nih kita ketemu? Hehe.

Like it?

    Firmansyah · November 12, 2018 pada 12:37 am

    Hahahaa… pasti tau deh Mas Adhi mah wkwk. Dia kan meet up sama Mas Adhi juga wkwkwk…
    Kita lihat, apakah dia akan mampir juga di kolom komentar tulisan ini… 😀 😀

    Aaamiiin Yaa Rabb. Thank you do’anya, Mas.

    Eh iya ya, kita kapan meet up ini? 😀

    Like it?

    Joe Candra · November 14, 2018 pada 2:22 am

    Wah luar biasa uni nya bang, btw sptnya aku kenal dengan cerita paragraf pertama wkkwkwkw

    Like it?

      Firmansyah · November 14, 2018 pada 8:19 am

      Tuh kan nongol orangnya. Hahahahahahaa siapa ya itu…

      Like it?

April Tupai · November 12, 2018 pada 12:13 am

Waa ternyata panggilannya Imam. Semoga segera jadi imam beneran, Mas 😁

Like it?

    Firmansyah · November 12, 2018 pada 12:38 am

    Hahhaaha iyaa mbak…. Aaamiiin ya mbak, biar gak lama2. 😀

    Like it?

Aminnatul Widyana · November 12, 2018 pada 5:11 am

Nasib anak sulung ya… Selalu merasakan pahit getirnya keluarga hiiikkksss… Ayahku jg uda jd tulang punggung keluarga sejak usia 7 tahun krn kakek meninggal. Harus rela putus sekolah sementara jg. Aq sendiri merasakan jd anak sulung, hidup penuh perjuangan. Kalo zaman adik2ku, Alhamdulillah perekonomian keluarga uda sedikit terangkat. Jadi uda lumayan enak lah.

Like it?

    Firmansyah · November 12, 2018 pada 9:34 am

    Wah ternyata mbaknya sama2 menjadi Anak Sulung seperti Uni saya….
    Pasti jadi sosok hero juga ya bagi adik2 mbak…. 🙂

    Like it?

April Sants · November 12, 2018 pada 12:10 pm

Saya sih punyanya Kakak Laki-Laki Sulung. Memang ya kalau anak pertama selalu berkorban demi keluarga. Saya yang anak bontot serasa belum bisa seperti kakak saya.

Like it?

    Firmansyah · November 12, 2018 pada 1:05 pm

    Wah setuju banget mbak, saya pun merasa demikian, sepertinya diri ini belum bisa seperti kakak-kakak saya itu… apalagi jasa dan pengorbanannya.

    Like it?

SARIF HIDAYAT · November 12, 2018 pada 4:39 pm

Mantappp, mengalirr benerrr idenya hehe

Like it?

    Firmansyah · November 12, 2018 pada 11:01 pm

    Terima kasih Mas Sarif…. semoga bermanfaat juga tulisannya ya. Aamiin.

    Like it?

Arda Sitepu · November 12, 2018 pada 6:19 pm

Bahagia saat ada uni yang selalu mengayomi. Wah jadi anak kesayangan sama umi2 nya ya Mas. Semangat ya… Sukses selalu Mas Firman.

Like it?

    Firmansyah · November 12, 2018 pada 11:03 pm

    Alhamdulillah… betul mbak. Terima kasih, mbak Arda semangatnya. Sukses juga ya for you and family… 🙂

    Like it?

Bang Yudistira · November 13, 2018 pada 8:10 am

Makin bagus saya bapak guru ini, good luck pak

Like it?

    Firmansyah · November 13, 2018 pada 10:09 am

    Alhamdulillah…. Mkasih kakak Bli Yudhis dari Bali… 🙂

    Like it?

Amir Mahmud · November 19, 2018 pada 4:23 pm

Orang Padang ternyata hihihi. Biasanya kalo orang Padang jago bikin rendang. Tapi Bang Firman jago gak nih bikin rendang, atau mungkin cuma jago makanya saja hihihi. Dulu waktu di Tangerang, saya pernah kenal baik sama orang Padang, malah seperti keluarga. Dia punya anak dan di panggil Buyung. Sekarang sudah gak tau kabarnya karena udah lama sekali

Like it?

    Firmansyah · November 19, 2018 pada 10:57 pm

    Wwkwkwk tau aja Mas Amir kalo saya bisanya cuma makan doang. wkwkw. Wah ternyata pernah dekat dengan teman orang Padang juga ya . 🙂

    Like it?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
error: Oops! Sorry. The content is protected :)