
Halo, Sobat Bang Firman’s Blog!
Long time no see! Siapa nih yang kangen sama saya dan tulisan saya di blog? Kepedean banget ya! Hahaha. Setelah 2 tahun lebih vakum dari dunia blog, akhirnya saya bisa kembali mengisi konten di blog ini lagi! Kalau ibarat barang, mungkin blog ini sudah jamuran, berdebu tebal, dan banyak sarang laba-labanya. Wkwkwk.
Oh ya, guys. By the way, saya vakum sekitar 2 tahun belakangan ini tentunya bukan tanpa alasan ya. Saya memang memilih untuk rehat sejenak dari dunia konten dan blog, karena ingin fokus menyelesaikan tugas akhir studi magister atau S2 yang sudah lama tertunda dan terbengkalai.
Alhamdulillah. Pada bulan Juli 2026 lalu, momen sidang tesis yang sudah lama dinantikan akhirnya tiba dan saya dinyatakan lulus dengan gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada bidang atau program studi Pendidikan Agama Islam.
Maka dari itu, hadirnya tulisan terbaru ini seakan menjadi luapan kerinduan tersendiri bagi saya pribadi setelah 2 tahun vakum blogging. Dengan tulisan ini juga, saya ingin berbagi seutas cerita di balik perjuangan menuju sidang tesis hingga proses revisian. So, check this out and don’t skip. ![]()
PERJALANAN PANJANG MENUJU SIDANG
Saya percaya setiap orang memiliki jalan cerita hidupnya masing-masing yang tidak perlu bahkan tidak layak untuk kita banding-bandingkan dengan orang lain, karena segala usaha dan perjuangan yang dicurahkan memiliki kesan dan makna yang luar biasa bagi yang menjalaninya.
Perjalanan studi magister saya mungkin tidak mulus, there are lots of ups and downs, dan tentu saja berbeda dengan teman-teman seperjuangan yang lain, karena masing-masing dari kita memiliki keseharian, kesibukan, dan latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda.
Ada masa ketika kata “sidang tesis” terasa begitu jauh dari pelupuk mata. Saat sedang sibuk menyusun proposal, mencari pijakan teori, dan menentukan metode penelitian, pada saat yang bersamaan juga saya harus mengatur serta membagi waktu dan prioritas antara urusan pribadi (kuliah) dan urusan umat (pekerjaan).
Entah kebetulan atau memang sudah jalannya, saya merasa pada saat mendekati tugas-tugas akhir perkuliahan, beban pekerjaan dan tugas struktural saya saat itu di sekolah justru semakin bertambah dan menjadi lebih berat dari sebelumnya. Suka tidak suka, mau tidak mau, itulah tantangannya.
Namun, saya selalu meyakini bahwa jika kita berniat baik untuk mendahulukan urusan orang lain, semoga Allah memudahkan urusan pribadi kita selanjutnya. Insha Allah. Aamiin. Perlahan, tahapan demi tahapan tugas akhir perkuliahan berhasil saya lewati. Rasanya pasti lega, tetapi tentu saja perjalanan belum selesai sampai di situ.

Stuck moments, sleepless nights, work pressures, dan rasa hampir menyerah sempat membayangi momen perjuangan ini. Ada hari-hari ketika menatap laptop terasa seperti rutinitas yang tidak ada ujungnya. Membaca, menulis, menghapus, memperbaiki, lalu membaca kembali. Mencoba bersahabat dengan lembaran revisi serta berkonsultasi intens dengan para dosen pembimbing. Hingga akhirnya, penelitian tesis sampai pada tahap yang selama ini saya tunggu. Ya, sidang tesis.
Ketika hari itu benar-benar tiba, saya sadar bahwa yang saya bawa ke ruang sidang bukanlah sekadar tumpukan kertas yang jumlahnya mencapai lebih dari 150 halaman, melainkan sebuah proses perjalanan panjang, kegigihan, serta dukungan dan doa yang mengiringinya. Alhamdulillah, sidang tesis berjalan lancar dan gelar M,Pd pun resmi disematkan.
REVISIAN MENUNGGU, MATA KERING MENGGANGGU
Sidang tesis memang sudah usai, tetapi perjuangan belum benar-benar selesai. Masih ada beberapa catatan dari para dosen penguji yang harus saya tindak lanjuti. Ada bagian yang perlu diperbaiki, hasil penelitian yang harus dipertajam, dan beberapa halaman yang mesti saya cek dan baca kembali dari awal.
Bagi saya, laptop sudah menjadi teman sehari-hari. Berbagai coffee shop dan tempat makan pun sudah menjadi langganan tempat singgah saya untuk membuka laptop. Bedanya, kali ini saya tidak lagi mengejar target jadwal sidang tesis, melainkan mengejar revisian agar tesis benar-benar layak diselesaikan dan siap dibawa kembali ke hadapan dosen untuk ditindaklanjuti menuju proses selanjutnya.
Nah, di tengah proses perjalanan tesis ini, ternyata mata pun mulai ikut memberikan “protes”. Mungkin kalau mata bisa ngomong, dia akan bilang bahkan berteriak,
“Woi! Capek nih gue! Kerja mulu, mana di depan laptop terus lagi! Lu tau gak rasanya? Sepet, perih, dan lelah tau gak!”
Hahaha. Mungkin begitu ilustrasinya ya, kalau mata bisa ngomong dan mengeluh capek. Wkwkwk.
Ya, memang sih. Saya akui, kerja terus-terusan di depan layar laptop pastinya membuat mata jadi terasa kering. Mata tuh rasanya kayak SePeLe alias SEpet, PErih, LElah. Dan ternyata, saya juga baru tahu kalau mata SePeLe itu adalah gejala mata kering yang banyak orang tidak sadari. Maka dari itu, #MataSePeLeJanganSepelein.
Kalau sudah begini, jadi serba salah. Pekerjaan belum selesai, tapi rasa tidak nyaman itu muncul lagi dan lagi. Akhirnya, jadi kurang maksimal deh. But, it’s okay. Karena mengerjakan revisi tesis itu tidak cukup hanya dengan memaksa pikiran untuk tetap fokus. Mata juga butuh perhatian. Ciyeeeee…

Ilustrasi bekerja depan layar laptop yang bisa membuat mata sepet, perih, dan lelah. Sumber: Dokumentasi Pribadi Bang Firman’s Blog (www.bangfirman.com)
Gejala mata kering yang terlihat sepele, ternyata bisa menjadi gangguan kenyamanan ketika pekerjaan sedang menumpuk, apalagi kalau sedang kejar deadline. Huft!
Tapi, tenang dulu, guys. Di balik setiap masalah, pasti ada solusinya. Di balik setiap penyakit, pasti ada obatnya. Nah, untuk urusan gejala mata kering seperti ini, saya sih sudah tidak perlu pusing-pusing lagi untuk cari solusinya, karena selalu ada ‘partner setia’ untuk bantu atasi gejala mata SePeLe.
Apa lagi yang saya maksud, kalau bukan Insto! Brand produk obat tetes mata yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Kehadirannya selalu jadi solusi kalau mata kita sudah butuh perhatian, khususnya untuk mengatasi iritasi ringan, mata merah, perih, gatal, serta mata kering.
Pertanyaan: Tapi, dari tadi kan kita lagi bahasnya tentang mata kering. Memangnya ada varian produk Insto yang khusus dibuat untuk mengatasi gejala mata kering, seperti SEpet, PErih, dan LElah alias SePeLe?
Jawaban: Ada dong! Untuk mengatasi gejala mata kering, Insto punya produk andalan mereka, yaitu Insto Dry Eyes. Sudah tahu? Kalau belum, ayo kita kenalan lebih jauh!
INSTO DRY EYES, SOLUSI MATA KERING
Aktivitas seperti revisian tesis yang menuntut untuk stand by di depan layar laptop dan cenderung jarang berkedip dalam waktu lama tentunya bisa menimbulkan gejala mata kering. Hal ini bisa membuat mata terasa tidak nyaman bahkan mengganggu aktivitas. Mata terasa sepet, perih, dan lelah. Ditambah, saya juga pengguna kacamata minus, jadi pastinya mata kering bikin pekerjaan jadi terganggu.
Berangkat dari kepedulian terhadap gejala mata kering tersebut, tidak heran kalau Insto punya varian produk khusus bernama #InstoDryEyes sebagai solusi dari gejala mata kering, seperti mata SePeLe alias SEpet, PErih, LElah, yang sering kali dianggap sepele. #MataSePeLeJanganSepelein.
Jadi, guys. #InstoDryEyes ini digunakan untuk memberikan efek pelumas seperti air mata, mengatasi gejala kekeringan pada mata, meringankan iritasi mata yang disebabkan oleh kekurangan produksi air mata (biasanya pada penderita rheumatoid arthritis, keratoconjunctivitis dan xerophtalmia), dan juga digunakan sebagai pelumas pada mata palsu.
Karena itulah, #InstoDryEyes ini sangat cocok dipilih sebagai ‘partner kerja’ dan dijadikan andalan ketika mata mulai terasa kering saat beraktivitas di depan layar laptop. Bekerja dengan #BebasMataKering tentunya akan lebih maksimal berkat #InstoDryEyes.
Nah, kalau berdasarkan pengalaman saya pribadi, penggunaan #InstoDryEyes juga biasanya saya kombinasikan dengan kebiasaan sederhana, seperti beristirahat sejenak dari layar, lebih sering berkedip, mengatur durasi bekerja di depan laptop, serta menghindari paparan udara AC secara berlebihan.
Agar lebih rinci dan jelas, berikut ini saya sajikan dalam gambar seputar tips mengatasi mata kering berdasarkan pengalaman pribadi saat bekerja di depan layar laptop.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut penting karena aktivitas yang membuat kita terlalu fokus pada layar dapat membuat frekuensi berkedip berkurang dan memicu gejala mata kering.
Apalagi di luar urusan perkuliahan pun, tuntutan pekerjaan sebagai seorang guru dan bendahara sekolah mengharuskan saya untuk selalu bekerja di depan laptop, mulai dari membuat lesson plan atau RPP untuk pembelajaran, menyusun laporan keuangan sekolah, dan lain sebagainya.
Karena penggunaan laptop yang sangat intens, maka saya selalu pastikan keberadaan #InstoDryEyes di dalam tas atau saku, untuk berjaga-jaga jikalau terjadi gejala mata SePeLe saat sedang fokus mengerjakan berbagai tugas. Ukuran kemasan #InstoDryEyes pun sangat praktis, jadi sangat mudah dan fleksibel untuk digunakan dan dibawa ke mana saja.
Mau buka laptop untuk mengerjakan tugas di rumah, membuat lesson plan dan laporan keuangan di sekolah, sampai revisian tesis sambil hangout ke coffee shop atau restoran pun sekarang tidak perlu khawatir, cukup bawa #InstoDryEyes dan teteskan ke mata saat gejala mata kering mulai mengganggu.
SIAP LANJUT REVISIAN BERSAMA INSTO
Seperti yang sudah saya singgung di awal tulisan, sidang tesis memang sudah usai, tetapi perjuangan saya belum benar-benar selesai. Masih ada revisian, masih ada bimbingan, dan masih ada perjalanan yang harus saya tuntaskan. Ya, demi menjadi wisudawan.
Insto Dry Eyes sekarang jadi salah satu ‘senjata’ yang saya siapkan untuk melanjutkan revisian di ‘medan perang’ alias di depan layar laptop. ![]()
Untungnya, #InstoDryEyes sangat mudah dicari dan didapatkan. Saya sendiri menemukan dan membeli #InstoDryEyes di Indomaret terdekat. Bisa juga melalui Official Store Combiphar di Shopee dan Tokopedia.
Selain mudah dicari, harganya pun terjangkau. Tenang! Tidak akan membuat dompet dan rekening jebol kok. Lagipula, untuk #BebasMataKering masa perhitungan sih? Dan gak perlu berobat ke dokter juga. Hehehe.
*****
Mendekati akhir tulisan saya ini, setelah perjalanan panjang menuju sidang tesis hingga revisian, saya jadi punya kesimpulan sederhana bahwa tesis boleh saja terus direvisi, target boleh saja terus dikejar, tetapi mata sebagai aset bagi diri sendiri tetap harus diberi perhatian. Jadi, kondisi #MataSePeLeJanganSepelein ya!
Menyelesaikan tesis memang membutuhkan fokus dan ketekunan, tetapi menjaga mata juga tidak boleh dilupakan. Revisi boleh terus berjalan, tetapi mata jangan dipaksa bekerja tanpa jeda.
Bagi saya, Insto Dry Eyes bukan sekadar tetes mata yang saya temukan ketika sedang membutuhkan, tetapi menjadi pengingat bahwa perjuangan menyelesaikan tesis juga harus disertai perhatian terhadap kondisi diri sendiri.
Kini, setelah sidang terlewati dan revisian masih menanti, saya siap membuka laptop kembali, melanjutkan perjuangan, dan berkata kepada diri sendiri:
“Revisian memang masih berjalan, tetapi mata kering jangan sampai jadi hambatan.”
Semoga tulisan ini bermanfaat. Terima kasih dan salam hangat!
Disclaimer:
Tulisan ini diikutsertakan dalam Insto Dry Eyes Blog Competition 2026. Tulisan ini merupakan hasil pemikiran dan pengalaman pribadi penulis yang didukung oleh beberapa sumber referensi lainnya sebagaimana tercantum pada daftar sumber referensi tulisan. Seluruh foto merupakan dokumentasi pribadi penulis dan sebagian besarnya diolah desain gambar secara mandiri oleh penulis menggunakan Canva.
Sumber Referensi Tulisan:
- Pemikiran dan Pengalaman Pribadi
- Website Resmi Insto, https://insto.co.id/
- Akun Resmi Instagram dan YouTube Insto
0 Komentar