“Menyikapi pandemi Covid-19, guru harus adaptif dan solutif terhadap perubahan. Guru harus mencari cara dan solusi, bukan mencari alasan. Sebab pada prinsipnya, belajar tidak cukup hanya menggairahkan, menantang, dinamis, dan menyenangkan saja, namun yang paling penting harus memberikan makna dan dan berdampak bagi murid di kehidupannya.”

~ Titik Nur Istiqomah, Guru SD Muhammadiyah 1 Muntilan ~

 

Begitulah deretan kalimat penuh inspirasi yang menghiasi kegiatan saya saat mengikuti seri 1 rangkaian kegiatan Webinar Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan oleh Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia selama bulan Agustus 2020 yang lalu. Untaian kalimat penuh inspirasi tersebut disampaikan oleh Titik Nur Istiqomah, seorang guru di SD Muhammadiyah 1 Muntilan, Kabupaten Magelang yang tidak lain juga sebagai Guru Penggerak Komunitas Guru Belajar Kabupaten Magelang.

Sebagai seorang guru, saya sangat mengamini apa yang beliau ungkapkan dalam kegiatan webinar tersebut. Kita sebagai seorang pendidik dan tenaga pengajar diharapkan mampu menyikapi Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti pandemi Covid-19 ini dengan merespons dan menyesuaikan perubahan, serta mencari berbagai cara dan solusi terbaik demi tetap berlangsungnya proses pembelajaran di tengah masa pandemi.

Dalam webinar, Titik juga menyampaikan bahwa ia menerapkan pembelajaran di era pembiasaan atau kenormalan baru dengan memperhatikan keragaman murid di sekolahnya. Di balik berbagai penyesuaian dan cara yang dilakukan Titik bersama guru-guru lainnya dalam rangka tetap menjalankan proses pembelajaran sekolah di tengah masa pandemi, terselip nilai-nilai karakter yang tersirat dan mungkin saja tidak disadari secara langsung oleh para peserta webinar.

Nilai karakter gotong royong yang tersirat dalam proses pembuatan video pembelajaran oleh para guru

Misalnya, nilai gotong royong yang saya dapatkan dari cara bagaimana beliau mempersiapkan video pembelajaran yang ternyata proses di balik layarnya tidak hanya dilakukan oleh beliau sendiri, tetapi juga  melibatkan guru lainnya dengan meminta bantuan untuk sekadar memegang gawai, membidik gambar, dan lain sebagainya. Nilai karakter yang sangat sederhana, bukan? Tetapi justru sangat bermakna dan dapat dijadikan contoh yang riil bagi para siswa dalam memaknai #CerdasBerkarakter.

Berbicara tentang #CerdasBerkarakter, saya pun jadi teringat tentang penguatan nilai karakter yang tidak lain adalah kewajiban dan milik kita semua. Gerakan pendidikan di sekolah harus berupaya memperkuat karakter peserta didik dengan mengembalikan marwah pendidikan berasas, sebagaimana disampaikan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara yakni Olah Hati, Olah Rasa, Olah Karsa, dan Olah Raga.

Selain gotong royong, nilai-nilai karakter lainnya pun dapat kita petik selama mengikuti rangkaian webinar tersebut yang disampaikan oleh para narasumber lainnya selama 4 sesi webinar Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. Seperti Yayuk Hartini (Guru SDN Indrasari 1 Martapura, Kalimantan Selatan) yang mencoba menerapkan pembelajaran dengan penumbuhan karakter, baik melalui aktivitas harian dan kemandirian murid selama di rumah.

Selain itu, ada juga Fandi Dawenan (Guru Pendidikan Khusus Berprestasi dan PJ Unit Produksi Braille di Sorong, Papua Barat) yang menceritakan tantangan mendidik anak-anak yang berkebutuhan khusus (disabilitas) di masa pandemi Covid-19, butuh kesabaran dan harus membuat modul pembelajaran yang sesuai kebutuhan anak dan lain sebagainya.

Dengan berbagai pengalaman dan inspirasi nilai-nilai tersebut, seyogianya kita berharap dapat terinspirasi dan kemudian menularkan nilai-nilai karakter dalam menghadapi masa pandemi serta menyiapkan generasi yang #CerdasBerkarakter. Amin.

 

How many stars for this post?

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This

Share This

Share this post with your friends!

error: Oops! Sorry. The content is protected. :)