“Jika setiap kebaikan berbagi yang seseorang lakukan dan tebarkan kepada orang lain selalu kita anggap dan nilai sebagai bentuk riya’, pamer, atau bahkan pencitraan, lalu kapan kita bisa menghargai dan mengapresiasi kebaikan seseorang?”

Pernahkah Anda berpikiran hal yang sama? Setujukah dengan pernyataan opini yang saya tulis di atas?

Pada zaman yang serba canggih dan online seperti saat ini, di mana semua orang bisa dengan mudah dan bebasnya menggunakan perangkat atau gawai yang terhubung dengan internet, kemudian berselancar sesuka hati di ruang maya yang tidak kalah menawarkan pesonanya yang menggugah namun juga dihiasi dengan dinamika yang pelik dan penuh ‘drama’ di dalamnya, sehingga seperti layaknya dunia nyata, ia pun tak pelak menghadirkan berbagai gambaran dan persoalan baru, termasuk tentang kebebasan menebarkan kebaikan berbagi kepada sesama.

Tidak perlu jauh-jauh, di lingkungan sekitar kita pun terkadang masih ada saja orang-orang yang terbiasa ‘nyinyir’, merasa tidak senang, serta menganggap pencitraan dan riya’ terhadap seseorang yang menebarkan kebaikan dan manfaat kepada orang lain, terlebih karena seseorang tersebut juga membagikan kebaikannya di ruang dunia maya, seperti media sosial YouTube, Facebook, Instagram, Blog, dan lain sebagainya. Padahal, hal tersebut tentu sah-sah saja dan merupakan hak si empunya akun media sosial, apa lagi jika hal yang ditebar dan dibagikan adalah suatu kebaikan dan konten positif yang bahkan bisa menjadi inspirasi, contoh, dan pembelajaran yang bermakna serta bermanfaat bagi orang lain. Insha Allah.

Jujur saja, secara pribadi pun saya selalu merasa ada yang mengganjal di hati, bila ada orang di sekitar yang berkata,

“Buat apa sih update-update tentang kebaikan di media sosial? Menang lomba dan dapat hadiah di-update, ada kegiatan donasi sosial lalu foto-foto terus di-update, makan-makan tasyakuran dan berbagi dengan yang lain di-update, dan lain sebagainya.”

Bagi saya sederhana saja, sambil berusaha mengingatkan diri sendiri dan orang lain, saya selalu berpikiran mengapa kita harus diam dan kalah dengan orang-orang yang hobinya menggunakan media sosial hanya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat? Bahkan parahnya, justru tidak sedikit orang yang gemar menebar kebencian, provokasi, hoax, serta konten-konten non-edukatif lainnya di media sosial. Coba bayangkan dan pikirkan, lebih baik mana, menebar kebaikan dan inspirasi di media sosial? Atau membiarkan konten-konten ‘sampah’ menghiasi keseharian kita di media sosial?

Pertanyaannya sekarang, mengapa kita harus merasa risi dan berpikiran negatif terhadap kebaikan yang dibagikan oleh seseorang, baik di lingkungan atau pun di media sosial? Jangan-jangan, selama ini justru hati kita yang selalu diliputi rasa iri dan dengki yang cenderung berlebihan sehingga selalu memiliki prasangka buruk terhadap orang lain.

Selain itu, kita juga tidak benar-benar tahu apa yang ada di dalam hati seseorang dan niat di balik kebaikan yang ia tebarkan. Maka, kita tidak sepatutnya menilai dan menghakimi perbuatan baiknya tersebut dengan sembarangan. Lagi pula, perihal penilaian riya’ atau pamer bukanlah ranah dan tugas kita sebagai manusia, karena ada yang lebih berhak dan lebih pantas menilainya yaitu Allah SWT, Yang Maha Mengetahui apa-apa yang ada di dalam hati dan pikiran setiap ciptaan-Nya. Wallahu a’lam bish-shawaabi.

Menebar Kebaikan Tak Mesti Dirahasiakan 

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 271)

Baiklah, sekarang mari kita umpamakan sedekah sebagai salah satu contoh kebaikan yang bisa kita lakukan dan tebarkan kepada sesama. Berbicara tentang sedekah, kita semua tentu pernah mendengar ungkapan yang berbunyi “tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu mengetahui“. Ungkapan tersebut bermakna bahwa kita tidak perlu dan tidak diperkenankan mengumbar sedekah atau kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain. Benar bahwa menyembunyikan atau merahasiakan sedekah lebih utama, namun nyatanya Allah juga tak pernah melarang hamba-Nya untuk bersedekah secara terang-terangan atau tidak sembunyi-sembunyi.

Begitu banyak ayat dalam Alquran yang menyebutkan kebaikan dari sedekah secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, karena pada keduanya tersimpan pahala yang luar biasa. Sehingga tak layak bagi kita untuk memiliki prasangka buruk atau su’udzon pada seseorang yang memperlihatkan sedekahnya bahwa mereka melakukan demikian karena ingin pamer atau sebagai bentuk pencitraan.

Seperti yang sudah saya tuliskan juga sebelumnya, bagaimana pun perihal ikhlas dan pamer (riya’) bukanlah hak bagi manusia untuk menilainya, karena keduanya merupakan pekerjaan hati yang amat halus dan tak dapat dirasa oleh siapa pun kecuali Allah. Terlebih lagi, Allah sendiri dalam Firman-Nya juga tidak pernah mengharamkan sedekah secara terang-terangan.

Faktanya, memang tidak semua kebaikan dan ibadah mesti dilakukan secara sembunyi-sembunyi, apa lagi jika bentuk ibadahnya merupakan hubungan antar sesama manusia atau hablum minannaas. Dalam agama Islam pun, terdapat salah satu rukun Islam yang wajib kita tunaikan secara terang-terangan dan tebarkan manfaatnya kepada sesama. Rukun Islam yang dimaksud adalah zakat.

Menunaikan zakat tentunya mesti dilakukan secara terang-terangan kepada panitia atau orang yang mengurusi zakat (Amil), mulai dari menyebutkan jenis zakat yang ingin ditunaikan hingga jumlah harta yang ingin dikeluarkan. Setelahnya, panitia zakat pun mendoakan orang yang menunaikan zakat (Muzaki). Hal yang sama pun dilakukan ketika kita ingin beribadah dan menebar kebaikan lewat hewan-hewan kurban saat hari Raya Iduladha, yaitu dengan adanya pengumuman atau penyebutan nama-nama donatur hewan kurban secara terang-terangan.

Lalu, apa saja manfaat berbagi kebaikan dengan tidak sembunyi-sembunyi atau secara terang-terangan yang perlu kita ketahui?

1. Mencontohkan sekaligus mengajak orang lain untuk turut berbagi dan menebar kebaikan

Cara yang paling umum dan paling mudah untuk belajar dan memahami hal baru adalah dengan melihat contoh yang diberikan. Begitu pun dengan berbagi dan menebar kebaikan. Cara mengajak orang lain untuk melakukan suatu kebaikan adalah dengan mencontohkannya terlebih dahulu. Mencontohkan merupakan cara terbaik untuk mengajak. Dengan cara ini pula, kita bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk berbagi dan menebar kebaikan. Insha Allah.

Misalnya, mau mengajak orang untuk menunaikan zakat, bersedekah untuk anak yatim piatu, atau menyumbang banyak untuk wakaf masjid, maka sebisa mungkin diri kita terlebih dahulu yang melakukannya. Sederhana bukan?

2. Wujud syukur atas karunia Allah SWT

Berbagi secara terang-terangan yang dilakukan dengan ikhlas bisa menjadi simbol wujud syukur atas karunia yang Allah SWT berikan pada diri kita, selama tidak ada unsur riya’ atau pamer pada diri kita. Insha Allah. Wallahu a’lam bish-shawaabi.

3. Mencegah perkataan buruk orang-orang yang suka menghina dan mencela

“Orang kaya dan berada, tapi kok gak pernah berbagi? Payah, memalukan!”

Mungkin saja di lingkungan sekitar kita ada tipe orang yang hobinya mencela dan menghina orang lain, seperti kata-kata di atas misalnya. Naudzubillah. Bukannya berbagi karena tak ingin dihina atau digunjing orang, akan tetapi kita juga punya kewajiban untuk menolong orang yang berbuat zalim, bukankah mencegah orang yang suka mencela dari perbuatan mencela adalah termasuk kebaikan juga?

Sebagaimana yang diucapkan Rasulullah SAW dalam hadisnya,

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi, maka seorang laki-laki berkata: wahai Rasulullah aku menolongnya jika dia dizalimi, apa pendapat Anda jika ia berbuat zalim, bagaimana aku menolongnya? Rasulullah menjawab: menghalangi atau mencegahnya dari kezaliman, begitulah menolongnya.” (HR. Tirmidzi)

Berbagi dan menebar kebaikan secara terang-terangan bisa mencegah diri dari celaan orang yang suka mencela dan menghina. Insha Allah.

Menebar Kebaikan, Menuai Keberkahan

Ramadan telah tiba. Bulan suci telah menyapa. Rasa syukur dan haru menggelayuti hati. Di sisi lain, rasa pilu dan sendu karena mewabahnya virus Covid-19 masih terasa menyesakkan dada. Ramadan tahun ini terasa sangat berbeda karena penyebaran virus Covid-19 yang belum mereda. Selain belajar dan bekerja, amalan ibadah pun dianjurkan hanya dilakukan di rumah saja. 

Bulan Ramadan memiliki banyak keutamaan. Salah satunya, Allah SWT akan melimpahkan pahala yang berlipat ganda bagi hamba-hamba-Nya yang beramal kebajikan dan #MenebarKebaikan. Allah SWT memiliki banyak cara untuk menyayangi hamba-Nya, salah satunya melalui ujian virus Covid-19 pada bulan Ramadan ini. Maka, semakin banyak juga cara bagi kita untuk menebar kebaikan berbagi kepada sesama. Semoga keberkahan senantiasa menaungi kita di bulan penuh rahmat ini. Aamiin.

Seperti beberapa waktu lalu, sekitar 3 hari sebelum memasuki bulan Ramadan, saya bersama dengan beberapa teman angkatan alumni satu almamater, Pondok Pesantren Daar el-Qolam terjun ke lapangan sebagai perwakilan panitia kegiatan donasi “GOLDEN CARE” #LawanCorona #LawanCovid19 (Golden adalah nama angkatan kami di Pondok Pesantren Daar el-Qolam) untuk menyalurkan bantuan berupa Sembako dan APD (Alat Pelindung Diri) dari donasi yang berhasil dikumpulkan dari para donatur selama sekitar 2 minggu setelah program donasi dibuka. Alhamdulillah, total donasi yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp. 10.400.000,00.

Dana hasil donasi kemudian dibelanjakan untuk keperluan Sembako, masker, dan hand sanitizer yang selanjutnya kami bagikan kepada masyarakat membutuhkan yang terdampak wabah Covid-19, khususnya di daerah sekitar Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan, baik mengunjungi secara langsung ke rumah-rumah warga di kampung, mendatangi posko (baku: pos) donasi Covid-19 di beberapa lokasi, atau pun membagikannya secara on the road. Selain itu, kami juga menyambangi Rumah Sakit sebagai tempat layanan kesehatan masyarakat untuk memberikan bantuan berupa APD (Alat Pelindung Diri) seperti masker, hand sanitizer, vitamin, dan lain-lain bagi para petugas medis di sana.

Video terlampir di atas yang saya unggah ke platform YouTube merupakan rangkuman dokumentasi kegiatan yang berhasil diabadikan, baik sebagai bentuk laporan maupun kenang-kenangan. Tentu saja segala bentuk dokumentasi foto dan video yang kebetulan saya abadikan dan kerjakan secara pribadi ini bisa menjadi salah satu contoh dan bukti bahwa menebar kebaikan berbagi itu tidak mesti sembunyi-sembunyi. Semakin ditebar dan dibagikan secara terang-terangan, maka akan semakin banyak inspirasi kebaikan, manfaat, dan pembelajaran yang bisa dipetik. Insha Allah.

Tidak berselang lama kemudian, inisiatif kami menggalang donasi untuk masyarakat yang terdampak wabah Covid-19 ini ternyata menggugah hati beberapa teman dan adik-adik angkatan kami untuk melakukan hal yang sama. Namun, karena semakin merebaknya wabah ini dan sudah diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) oleh pemerintah, khususnya di Jabodetabek, maka mereka pun berinisiatif untuk menyalurkan hasil donasinya melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang amanah dan tepercaya. LSM yang dimaksud tidak lain adalah Dompet Dhuafa. Alhamdulillah.

Beberapa kegiatan donasi sosial Covid-19 oleh adik-adik angkatan yang disalurkan melalui Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa dan Inspirasi Kebaikan Berbagi

Sekarang, mari kita berandai-andai dan membayangkan bila semua orang memilih untuk menebar kebaikan secara sembunyi-sembunyi, sehingga tidak ada inspirasi dan motivasi untuk menebar kebaikan. Bayangkan bila semua orang tidak tersentuh hatinya untuk menebar kebaikan secara terang-terangan, mungkin saja tidak ada atau sedikit dai-dai yang mau berdakwah, karena khawatir dakwahnya akan dicap sebagai pencitraan, tidak ada relawan-relawan yang rela membantu, karena takut kepeduliannya hanya dicap pura-pura, tidak ada dermawan-dermawan besar yang bermurah hati memberikan sebagian hartanya, karena merasa kebaikannya nanti akan dinilai sebagai pamer atau riya’. 

Bahkan, dalam konteks yang lebih besar, kemungkinan lembaga-lembaga swadaya masyarakat non pemerintah atau NGO (Non Government Organization) seperti Dompet Dhuafa misalnya, tidak akan bisa eksis dan berkembang besar seperti saat ini, jika bukan karena adanya keterbukaan, transparansi, dan inspirasi kebaikan yang ditebarkan dan dibagikan secara terang-terangan.

Kini, siapa yang tidak mengenal Dompet Dhuafa? Lembaga Filantropi Islam yang sudah berdiri sejak tahun 1993 ini semakin dikenal luas dan berkembang pesat sebagai lembaga yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan dengan mendayagunakan dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) serta dana sosial lainnya baik dari individu, kelompok maupun perusahaan.

Sebagai Lembaga Amil Zakat milik masyarakat, Dompet Dhuafa berkomitmen untuk menunjukkan sebuah pola pengelolaan zakat yang tak hanya memberikan solusi singkat, praktis, dan sederhana dalam menanggulangi berbagai masalah di Indonesia. Lebih dari itu, setiap permasalahan harus diselesaikan dari hal yang paling mendasar. Dompet Dhuafa juga ingin membuktikan kontribusi zakat yang lebih meluas.

Zakat yang dikelola juga mampu mengentaskan kemiskinan melalui program pemberdayaan ekonomi. Melalui pemberdayaan tersebut, Dompet Dhuafa bukan saja “memberi ikan”, namun “memberi kail” dan melatih para mustahik agar mampu bertahan bahkan berpindah dari mustahik (penerima zakat) menjadi muzaki (pemberi zakat). Di lain sisi, zakat pun juga berkontribusi dalam penyebaran dakwah dan pembenahan akhlak masyarakat. Dompet Dhuafa membentuk Corps Dai Dompet Dhuafa khusus untuk menjalankan misi melayani umat Islam dalam menyebarkan dakwah.

Berbicara sedikit tentang Corps Dai Dompet Dhuafa, tentu saya juga tidak akan melewatkan seorang sosok inspiratif dan penuh semangat yang kini berkarir dan mengabdikan dirinya untuk berjuang bersama Dompet Dhuafa sebagai Koordinator Dakwah Internasional. Sebut saja Ust Hardy Agusman atau Kak Hardy. Sebagai sama-sama alumni almamater Pondok Pesantren Daar el-Qolam, bangga rasanya bisa melihat alumni yang sukses berkiprah bersama lembaga swadaya masyarakat sebesar Dompet Dhuafa.

Kebetulan kami berdua memang hanya berbeda atau terpaut satu tahun angkatan saja di Pondok Pesantren. Jadi pastinya, kami sudah saling mengenal satu sama lain. Dalam beberapa kesempatan event di almamater, sosok Hardy Agusman sudah beberapa kali diundang secara khusus sebagai alumni dan pengisi acara untuk berbagi kisah dan pengalamannya yang diharapkan bisa menjadi inspirasi dan pemacu semangat bagi adik-adik santri yang sedang atau masih menuntut ilmu di almamater kami. Aamiin Yaa Rabb.

Menebar Kebaikan Lewat Genggaman Tangan

Bersama Dompet Dhuafa, kita dapat belajar memahami hakikat ujian sebagai pangkal asas kebahagiaan. Saat kita menyikapi ujian dengan cara berpikir dan bertindak positif, maka kita akan mendapatkan kebaikan. Ketika virus Covid-19 membuat kita semakin dekat dengan Allah SWT dan menyadari tujuan hidup di dunia, itulah hal baik yang patut disyukuri.

Pada dimensi sosial, ada banyak peluang kebaikan untuk menolong sesama yang hidupnya kesusahan karena terdampak wabah virus Covid-19. Bahkan dengan canggihnya teknologi yang kita rasakan saat ini, kita dapat mengulurkan bantuan dan menebar kebaikan hanya lewat genggaman tangan, ya genggaman tangan. Walau kini kita #TetapDiRumahSaja, bersama Dompet Dhuafa dan smartphone dalam genggaman tangan, kita semakin mudah mewujudkan niat untuk berdonasi, bersedekah, membayar zakat lebih awal, dan lain sebagainya untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Pengalaman pribadi saat berdonasi zakat fitrah di Dompet Dhuafa setahun lalu. Cukup lewat genggaman tangan.

Kita tetap dapat hidup berbahagia di tengah kondisi sulit pada bulan Ramadan tahun ini. Terkadang kita terpaku mencari kebahagiaan dengan memenuhi keinginan kita. Padahal, ada jalan lain untuk menumbuhsuburkan kebahagiaan bagi kehidupan kita, baik di dunia dan di akhirat. Salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah #MenebarKebaikan yang dilandasi keimanan. Kebahagiaan itu akan dirasakan saat kita berbuat kebaikan. Dengan kebaikan yang kita lakukan, Allah SWT berjanji akan menghapus kekhawatiran dan kesedihan dari diri kita. Maka, janganlah berhenti menebar kebaikan.

Kesimpulan dan Penutup 

Begitulah, semua modal hamba-hamba-Nya berupa iman dan amal saleh selama hidup di dunia, tidak akan lenyap dan sia-sia di sisi Allah. Ini memberikan penegasan bahwa harapan hamba-hamba-Nya itu tidaklah hampa. Mereka pasti akan mendapatkan apa yang diharapkan. Hal itu karena telah menjadi ketetapan dan janji Allah bahwa semua perbuatan manusia akan mendapatkan balasan dari-Nya.

Mewabahnya virus Covid-19 pada bulan Ramadan ini menjadi momentum terbaik bagi kita agar konsisten menjadi orang baik yang gemar #MenebarKebaikan. Semoga hal ini menjadi ikhtiar nyata untuk meraih predikat takwa. Hidup di dunia ini amatlah singkat. Itu pun hanya sekali. Maka, mari kita manfaatkan dengan sebaik dan sebijak mungkin, jangan sampai kita salah pilih jalan dan merugi. Kita harus mengambil perniagaan dengan Allah, yang mendatangkan keuntungan pahala berlipat ganda. Masihkah kita belum tertarik dengan tawaran yang menggiurkan dari Allah itu?

Semoga Allah memberikan kita kemampuan untuk senantiasa menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan untuk menebar kebaikan kepada sesama, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Kalaupun belum memiliki rezeki lebih untuk berbagi, setidaknya kita bisa menebar kebaikan dan hal-hal positif lainnya, baik di lingkungan nyata atau pun dunia maya.

Mari semangat menebar kebaikan berbagi. Semoga kebaikan yang kita tebar bisa menjadi inspirasi dan manfaat yang sangat berarti bagi orang lain. Aamiin Allahumma Aamiin.

Terima kasih dan salam hangat.

 

 

Disclaimer:

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Sumber-sumber:

  • Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis dan Dompet Dhuafa
  • Video: Dokumentasi Pribadi Penulis di Kanal YouTube Bang Firman’s Channel dan Dompet Dhuafa TV
  • Olah Grafis: Dokumentasi Pribadi Penulis
  • Referensi Konten Tulisan: Pengalaman Pribadi Penulis, Website Resmi Dompet Dhuafa (donasi.dompetdhuafa.org), Akun Media Sosial Dompet Dhuafa, Tabungwakaf.com, Kitabisa.com, Republika.id, Minanews.net.
How many stars for this post?

27 Komentar

Joe Candra · Mei 1, 2020 pada 12:17 am

Mantabbbbbb bang. Dan entah kenapa aku setuju banget sama kalimat awal yg ijo itu hehehe. Lanjutkannnnmmm

Like it?

    Firmansyah · Mei 1, 2020 pada 4:27 am

    Alhamdulillah. Terima kasih ya, Bang Joe. Mari kita lanjutkan #MenebarKebaikan. 🙂

    Like it?

thya · Mei 1, 2020 pada 3:53 pm

keren..
berbagi ke daerah mana aja kmrn mas fir?
semoga bisa jd inspirasi untuk temen2 yang lain juga ya mas untuk selalu menebar kebaikan..

Like it?

    Firmansyah · Mei 2, 2020 pada 9:04 am

    Alhamdulillah. Syukron, Mbak Tia.
    Ketika itu kita berbagi di seputar daerah Kota Tangerang, tepatnya di Cipondoh dan Serpong, Mbak. 🙂
    Aamiin Yaa Rabb. Terima ya, Mbak Tia sudah berkunjung.
    Salam hangat.

    Like it?

      Cea(olysiera sahmin mohga) · Mei 8, 2020 pada 9:45 pm

      Setuju sama semua pendapat, terutama dengan ustad yang mencoba untuk memberi inspirasi utk org lain 😁

      Like it?

Siti fazya putri · Mei 8, 2020 pada 9:36 pm

Alhamdulillah..
Ustad, dapat berbagi bagi sesuatu kepada orang
Yang tidak mampu, semoga dengan ustad seperti itu
Kita semua, bisa menirukan yang terbaik untuk semua:)

Like it?

    Zalfa laudya · Mei 8, 2020 pada 9:56 pm

    Alhamdulillah
    Semoga rezeki ustad bertambah terus dan saya setuju dengan apa yang ustad katakan disini. Semoga kita bisa mencontoh dengan ada nya ini,
    Terima kasih

    Like it?

      Haidar Mahrus Al Jupri · Mei 9, 2020 pada 6:44 pm

      Alhamdulillah,ustadz masih bisa berbagi terhadap
      Orang yg kurang mampu…
      Semoga amal kebaikannya dilipat gandakan
      Oleh Allah SWT.Aamiin….

      Like it?

abessina · Mei 8, 2020 pada 10:06 pm

saya setuju kalau kita Gak apa apa jika membuat video yang membantu orang lain Dan menyebarkannya ke YouTube dll. Karena itu for menginspirasi orng lain agar ikut serta membantu orang yang tidak berkecukupan

Like it?

Zahrah s · Mei 8, 2020 pada 10:08 pm

Saya kagum dngn ustad yang selalu berbagi , dan sangat setuju dengan pendapat ustad tentang menginspirasi orang aagr ikut berbagi semangat terus ustad 😀

Like it?

Ratu alya · Mei 8, 2020 pada 10:14 pm

Alhamdulillah….
Saya setuju dgn pendapat ustad, bersedekah tdk harus dgn sembunyi sembunyi tapi ada kalanya harus kita perlihatkan kpd orang lain…tujuannya bukan untuk pamer ataupun riya….tapi memberi contoh kepada orang orang, untuk berbagi dgn kaum yg kurang mampu disekitar kita.

Like it?

Daffa Renia Dinda · Mei 8, 2020 pada 10:20 pm

Alhamdulillah… setuju dengan pendapat ustadz yg menjelaskan bahwa berbagi kebaikan memang boleh di tayangkan sesuai hak asasi masing²pengguna. Semoga menjadi contoh yang sangat baik bagi saya, orang lain, dan kita semua sebagai masyarakat.

Like it?

Naylah salsabila · Mei 8, 2020 pada 10:56 pm

Wah keren tad ..
Semoga apa yang ustad lakukan di berkahi allah
dan kita semua bisa mencontoh nya 🙂

Like it?

Abi Miqdam Asy- Syathir · Mei 9, 2020 pada 5:55 am

Menebar kebaikan lewat dua media, verbal (bul qaul) dan non verbal (bil hal) dengan kegiatan sosial adalah dua senjata dalam dakwah. Keduanya mesti dilestarikan dengan cara menebar kebaikan lewat publikasi. Agar dakwah dengan dua methode ini berkembang, membumi dan diterima masyarakat tentunya dengan kemasan yang selaras jiwa dan akal masyarakat yang sarat pada perkembangan dunia. Bahkan Rasulallah untuk urusan dunia , rasulallah pernah menyerahkan kepada kita dengan ungkapan yang mengandung motivasi dan insfiratif . ” Kamu lebih mengetahui tentang urusan duniamu” itulah ucapan beliau.
Kalau begitu, menebar kebaikan dengan berbagi adalah sebuah insfirasi yang baik dan satu keniscayaan. Idea kreatif bang Fimran adalah satu insfirasi yang memberikan corak warna dinamisasi kebaikan. Inilah dakwah yang tak lekang dimakan waktu. Good idea… Dan teruslah menebar kebaikan dengan berbagi sebagai perangkat menuju ketinggian iman dan takwa…

Like it?

Kesya Andra · Mei 9, 2020 pada 12:08 pm

Alhamdulillah..
Saya kagum dengan ustad yang selalu berbagi
kepada orang orang yang membutuh kan,semoga kita semua dapat
meniru kebaikan yang ustad lakukan 🙂
Terima kasih…….

Like it?

Naila nanda · Mei 9, 2020 pada 2:13 pm

Alhamdulillah,,,
Saya setuju dengan ustadz firman…
Semoga dengan menebar kebaikan kepada banyak orang Allah SWT. Akan menghapus kekhawatiran Dan menginspirasi Kita semuanya,,,,. Amiiiin

Like it?

Nurul Mutiara R.A · Mei 10, 2020 pada 11:14 am

Kalau versi saya memang kebaikan itu untuk siapa saja dan bisa dilakukan dengan cara apa saja. Jadi, entah mau berbagi secara sembunyi-sembunyi atau diperlihatkan, tinggal niat si pemberi aja. Soalnya, urusan hati (ikhlas enggaknya) hanya gusti Allah yang paham. Mau orang lain berpikir seperti apapun, its okay. Itu hak mereka, intinya, tetap menebar hal baik bagi semua makhluk 🙂

Like it?

    Firmansyah · Mei 14, 2020 pada 1:00 am

    Betul, Mbak Tiara. Bukan tugas dan kemampuan kita sebagai manusia untuk menilai kebaikan seseorang.

    Terima kasih ya, Mbak. Salam hangat.

    Like it?

Rizka Edmanda · Mei 11, 2020 pada 5:06 am

Saya jadi ingat perkataan guru saya. Waktu itu saya bertanya Sedekah terang-terangan itu boleh gak? kata beliau, boleh Abdurrahman Bin Auf pernah mencontohkannya. Sedekah sembunyi-sembunyi pun boleh sebab Abu Bakar Ash Siddiq adalah contohnya. Terus saya tanya lagi, yang gak boleh gimana? Beliau jawab : yang tidak boleh itu yang tidak sedekah.

Semoga tulisan ini menjadi hidayah supaya lebih banyak lagi orang berbagi.

Like it?

    Firmansyah · Mei 14, 2020 pada 12:58 am

    Aamiin Allahumma Aamiin. Terima kasih ya, Mbak Rizka sudah berbagi cerita. Semoga kita selalu diberikan kemampuan untuk #MenebarKebaikan. Aamiin.

    Salam hangat.

    Like it?

Fadli Hafizulhaq · Mei 11, 2020 pada 5:58 pm

Benar banget, Da Firman. Kalau kita #MenebarKebaikan dengan terang-terangan itu ada nilai syiarnya buat orang lain, mudah-mudah mereka juga tergerak hatinya untuk berbagi. Soal niat kita, atau orang lain yang berbagi, itu biar yang bersangkutan dan Allah saja yang tahu.

Like it?

    Firmansyah · Mei 14, 2020 pada 12:56 am

    Iya, Uda Fadli. Semoga kita selalu diberikan kemampuan untuk menafkahkan sebagian rezeki yang kita miliki kepada sesama yang membutuhkan, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Aamiin.

    Terima kasih dan salam hangat.

    Like it?

Adhi Hermawan · Mei 12, 2020 pada 1:13 am

Betul banget mas! selagi niat kita bukan untuk pamer ataupun riya.
Entah kita posting kebaikan seseorang ataupun kita sendiri, setidaknya kita sudah menginfuenz orang lain untuk berbuat kebaikan juga. Dan itu juga bisa menjadi sarana kita untuk melipat gandakan kebaikan.

Like it?

    Firmansyah · Mei 14, 2020 pada 12:53 am

    Iya, Mas Adhi. Seperti yang saya tulis juga di atas, perihal ikhlas dan riya’ itu adalah penilaian hati yang amat halus, dan bukanlah tugas dan kemampuan kita sebagai manusia untuk menilai, karena ada Allah SWT Yang Maha Mengetahui.

    Terima kasih ya, Mas Adhi. Salam hangat.

    Like it?

enny ratnawati · Mei 12, 2020 pada 10:11 pm

setuju banget ustad,menebar kebaikan (sudah nggak saatnya) disembunyikan. Yang penting niat kita adl tulus berbuat pendapat baik. Ah, pendapat orang kan nomer kesekian. Mari kita lebih banyak lagi menebar kebaikan untuk sesama.aamiin

Like it?

    Firmansyah · Mei 14, 2020 pada 12:50 am

    Iya, Mama Najla. Insha Allah dengan ditebar, kebaikannya bisa menjadi inspirasi dan manfaat bagi orang lain seperti apa yang telah dilakukan oleh Dompet Dhuafa. Aamiin.

    Terima kasih dan salam hangat.

    Like it?

Hikmah Bersemi di Tengah Pandemi, Saatnya Gali Potensi dan Maksimalkan Teknologi Informasi – Bang Firman's Blog · Juni 17, 2020 pada 12:24 am

[…] kita sehari-sehari semenjak 3 hingga 4 bulan terakhir. Rasa pilu dan sendu karena mewabahnya virus Covid-19 masih terasa menyesakkan dada. Sebagian besar aktivitas kita tahun ini terasa sangat berbeda karena […]

Like it?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This

Share This

Share this post with your friends!

error: Oops! Maaf. Konten tulisan yang sedang kamu baca ini dilindungi. :)