“The First Impression Lasts Forever” 

– Anonim – 

Banyak orang berkata bahwa kesan pertama akan bertahan selamanya atau selalu ‘menempel’ di hati dan pikiran dalam kurun waktu yang cukup lama. Saya sendiri mengamini dan tidak memungkiri pernyataan tersebut. Saya yakin sebagian besar dari kita pun merasakan demikian. Memang kenyataannya, segala bentuk pengalaman pertama kita terhadap sesuatu yang baru akan menorehkan kesan tersendiri, apa lagi jika pengalaman pertama tersebut menyenangkan dan penuh makna, misalnya seperti apa yang saya rasakan saat pertama kali traveling ke Jogja dan terbang Bahagia Bersama AirAsia. Ya benar, AirAsia! Maskapai low-cost populer di dunia yang telah memenangkan penghargaan sebagai World’s Best Low-Cost Airline dari Skytrax selama 11 tahun berturut-turut.

Nah, simak cerita pengalaman saya ini sampai akhir ya. 🙂

Terbang Bahagia Bersama Air Asia. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sebagai seorang yang memiliki ketertarikan dalam bidang pariwisata, pengalaman mengunjungi suatu tempat atau daerah baru yang belum pernah dikunjungi sebelumnya adalah hal yang sangat menyenangkan dan merupakan suatu excitement tersendiri bagi saya pribadi. Dan benar saja, salah satu contoh daerah destinasi wisata yang berhasil menorehkan first impression sangat istimewa di hati saya adalah Jogja. Ya, Jogja. Tanpa sedikit pun ragu saya katakan.

SEKELUMIT KISAH PENGALAMAN PRIBADI TENTANG JOGJA YANG BERHATI NYAMAN

Sejak pertama kali mengunjungi Jogja pada tahun 2015, lalu datang kembali pada tahun 2016, kesan yang selama ini bertahta dalam hati saya tentang Jogja tetaplah sama, tidak berubah walau secuil, Jogja tetaplah Jogja, kota yang selalu istimewa dan berhati nyaman. Ya, berhati nyaman. Kata-kata yang bukan hanya sekadar slogan atau jargon pariwisata, karena saya pribadi pernah merasakannya sendiri melalui sebuah insiden, betapa Jogja dengan dinamika budaya dan masyarakatnya mampu membuat saya merasa aman dan nyaman.

Salah satu foto saat pertama kali menginjakkan kaki di Jogja tahun 2015. Saya abadikan di akun Instagram saya. Terlihat suasana Jalan Malioboro sebelum diperbarui seperti saat ini.

Pada kunjungan kedua saya dalam rangka #ExploreJogja tahun 2016, ada tragedi kecil yang menghiasi pengalaman traveling saya kala itu, yaitu kehilangan smartphone di salah satu spot wisata di pusat Kota Jogja saat hari terakhir #ExploreJogja dan parahnya insiden itu terjadi 2 jam menjelang jadwal keberangkatan saya kembali ke Jakarta. Singkat cerita, setelah meminta tolong adik kelas yang kuliah di Jogja, akhirnya smartphone saya ditemukan malam hari itu juga di sebuah warung dekat area parkir tempat wisata Taman Sari Keraton Yogyakarta yang terletak di pusat Kota Jogja.

Setahun berikutnya, saya kembali datang ke Jogja untuk #ExploreJogja lebih jauh lagi. Spot wisata di foto ini adalah Masjid Bawah Tanah yang terletak di Kampung Taman, tidak jauh dari lokasi Taman Sari Keraton yang kemudian menjadi lokasi hilangnya smartphone saya.

Ternyata, smartphone saya sudah disimpan dan diamankan oleh seorang Bapak Tukang Parkir di sana. Saya sempat meminta adik kelas saya tersebut untuk memberikannya imbalan atas kebaikan hatinya mengamankan smartphone saya, tapi beliau menolaknya dan memilih mengembalikan smartphone saya tanpa pamrih melalui adik kelas saya itu. Insiden yang berawal dari kecerobohan saya ini justru membuat saya semakin terpesona dan terkesima akan keistimewaan Jogja. Jogja ternyata bukan hanya tentang destinasi wisatanya yang beragam, bukan hanya tentang nuansa romantismenya yang semakin menjadi saat malam hari, lebih dari itu Jogja memang selalu istimewa dengan nilai budayanya yang kuat melekat dan perangai masyarakatnya yang ‘berhati nyaman’.

LIBUR TELAH TIBA, SAATNYA BERNOSTALGIA MEMELUK KEMBALI PESONA JOGJA

Saya bersyukur sekali, sebagai seorang #TeacherBlogger yang mencintai dunia pariwisata, saya memiliki kesempatan liburan yang masih bisa saya pergunakan waktunya untuk menjalani passion traveling saya. Keseharian saya sebagai seorang guru, secara tidak langsung memberikan saya kesempatan untuk berlibur sesuai dengan jadwal dan waktu yang telah ditentukan dalam Kalender Pendidikan di Yayasan Pendidikan tempat saya mengajar.

Mesra Bersama Mentari Senja Parangtritis

Maka dari itu, liburan sekolah semester 1 sebagaimana telah terjadwal pada minggu pertama dan kedua bulan Desember ini, tidak ingin saya lewatkan begitu saja tanpa adanya kegiatan traveling alias jalan-jalan. Hati yang sudah rindu ingin berkelana, ternyata berlabuh pada pilihan untuk kembali bernostalgia di Jogja. Dengan pertimbangan banyaknya spot-spot wisata di Jogja yang belum dikunjungi, ditambah dengan beragamnya wisata-wisata baru yang bermunculan di Jogja, semakin menambah keyakinan saya untuk kembali memeluk pesona Jogja yang hampir 4 tahun tak bersua.

Kebetulan liburan dan momen #ExploreJogja saya kali ini ditemani dengan beberapa kerabat kerja saya. Kami bergerombol mengeksplor pesona Jogja selama 3 hari. Penasaran ke mana saja saya pergi selama bernostalgia dengan Jogja? Berikut adalah beberapa rangkumannya.

1. Melepas Rindu dengan Parangtritis

Nostalgia saya ke Jogja sepertinya tidak akan lengkap dan afdal jika tidak mengunjungi pantai populer dan ikonik yang persis berada di arah selatan Kota Jogja. It really brings back the memories! Kesan pertama saya terhadap pantai ini tidak berubah walau setelah hampir 4 tahun, tetap dengan pesona mentarinya yang terik menyengat! Hehe. Memang hampir setiap daerah di Jogja terkenal cukup terik.

Pesona Gumuk Pasir Barchan yang letaknya tidak jauh dari Pantai Parangtritis

Walau terkenal cukup terik dan panas, tapi jangan salah, Pantai Parangtritis justru akan semakin menebarkan pesona keindahannya saat memasuki waktu golden hours, khususnya saat menjelang senja tiba. Intinya, Pantai Parangtritis semakin sore, semakin memesona. Jadi, jangan lupa untuk abadikan momen emas tersebut dengan jepretan kameramu, sambil menikmati indahnya proses matahari terbenam di ufuk barat, dan ditemani semilir angin laut selatan yang syahdu.

Nostalgia saya di Parangtritis semakin berkesan karena sambil menunggu momen matahari terbenam, saya bersama teman-teman memutuskan untuk menyewa mobil Jeep dan menelusuri Gumuk Pasir Barchan, Pantai Parangkusumo, dan Pantai Cemara yang letaknya masing-masing tidak terlalu jauh dari Pantai Parangtritis. Hitung-hitung sambil memacu adrenalin. Ya, kan? 🙂

Hiburan dan atraksi lainnya juga bisa kita nikmati di Pantai Parangtritis sembari menunggu datangnya waktu senja, seperti naik Kuda, Delman, atau uji adrenalin dengan yang lebih ekstrim, Paralayang!

2. Menikmati Kesejukan dan Eksotisme Hutan Pinus Mangunan

Kawasan Mangunan di Kabupaten Bantul mulai banyak dibicarakan oleh netizen beberapa tahun terakhir ini, salah satu alasannya adalah karena semakin banyaknya spot wisata yang bisa dikunjungi dan dinikmati di lokasi tersebut. Salah satunya, Hutan Pinus Mangunan, Dlingo, Bantul, Jogja.

Ya, Hutan Pinus Mangunan, satu dari beberapa spot wisata hutan pinus yang populer di dunia maya dan sempat wara-wiri di beranda media sosial saya, karena sering kali dikunjungi oleh warganet dan beberapa teman media sosial. Tempat wisata ini cukup recommended dan aman untuk dikunjungi oleh semua kalangan pengunjung, baik anak-anak, remaja, pasangan, dan keluarga. Bahkan banyak juga yang menjadikannya sebagai lokasi pemotretan pre-wedding.

Suasananya yang sejuk dan banyaknya spot foto yang instagramable dan sengaja dibuat untuk mempercantik latar semakin menambah antusiasme para pengunjung untuk mencoba dan mengabadikannya satu per satu. Tapi, bagi saya pribadi spot-spot foto buatan tersebut tentunya masih kalah menarik dibandingkan dengan latar suasana hutan pinusnya sendiri yang sudah cantik, alami dan menyejukkan mata dan hati. 🙂

3. Menengok Sensasi Keindahan Tebing Breksi yang Hits

Tidak jauh berbeda dengan kawasan wisata di daerah Mangunan, tempat wisata Tebing Breksi yang terletak di Kabupaten Sleman pun sedang ‘naik daun’ dan menjadi salah satu primadona tempat wisata di Jogja beberapa tahun belakangan ini. Saking populernya, Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama  pun pernah mengunjunginya pada tahun 2015.

Berdasarkan cerita sejarahnya, tebing ini dulunya merupakan endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran. Di areal penambangan batu kapur yang luas itu, masih tersisa tebing kapur yang menjulang tinggi. Melihatnya sebagai situs bersejarah yang unik, warga pun secara sukarela mengelolanya menjadi kawasan wisata. Tebing tersebut kemudian disulap menjadi destinasi wisata liburan, tanpa mengubah kondisi geologis dan bentuk aslinya. Keren, kan?

Saya pun tidak ingin melewatkan momen pengalaman pertama saya berkunjung ke Tebing Breksi ini. Banyak atraksi dan spot foto yang bagus untuk dijadikan latar foto yang menarik. Beberapa di antaranya yang sempat saya abadikan adalah berfoto bersama Mr. Owl atau Burung Hantu, melompat di atas spot foto berbentuk bunga, mencoba spot foto sepeda ontel, serta berfoto dengan latar ukiran dan pahatan yang unik dan ikonik di sekitar Tebing Breksi.

NOSTALGIA PESONA JOGJA SEMAKIN BERKESAN DAN BAHAGIA BERSAMA AIR ASIA

Dari awal tulisan saya sudah membahas tentang first impression dan mengaitkannya dengan Jogja sebagai destinasi traveling yang berhasil menorehkan kesan pertama yang luar biasa di hati saya, sehingga membuat saya selalu ingin datang kembali dan bernostalgia ke sana. Selain itu, seperti yang saya sudah ungkapkan juga di awal, pengalaman first impression lainnya yang tidak kalah mengesankan adalah pengalaman pertama saya naik pesawat domestik dan terbang Bahagia Bersama AirAsia.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Jujur saja, ini memang pengalaman pertama saya naik pesawat domestik. Karena pengalaman pertama saya naik pesawat justru pada tahun 2014 silam, saat saya terpilih untuk mengikuti program Student Exchange ke Jepang. Jadi, saya tekankan dan ulangi, pengalaman terbang saya bersama AirAsia ini merupakan momen pertama kalinya saya merasakan naik pesawat domestik. Ah, senangnya. 🙂

Akhirnya Merasakan Naik Pesawat Lagi dan Terbang #BahagiaBersamaAirAsia

Mohon maklum. Selama ini, saya memang belum pernah traveling menggunakan pesawat terbang. Alasannya sederhana, karena bagi saya dan keluarga yang notabenenya hanya orang awam dan biasa, naik pesawat apa lagi untuk urusan traveling masih tergolong kebutuhan yang ‘tersier’ alias mewah. Alasan ini mungkin juga mewakili kalian yang berpikiran dan merasakan hal yang sama dengan saya.

Tapi, bisa jadi itu hanya sebuah paradigma yang sudah terbentuk sejak lama, apa lagi pada zaman now ini, faktanya naik pesawat itu tidak semahal dan sesulit yang kita khawatirkan kok. Buktinya, dengan terbang Bahagia Bersama AirAsia, segalanya menjadi lebih mudah dan terjangkau, bahkan banyak promo dan diskon yang murah meriah, baik untuk penerbangan domestik maupun internasional. Jadi, bisa tetap ramah di kantong, dompet, atau rekening kan? Hehe. Tentu saja itu semua selaras dengan slogan yang selalu mereka gaungkan ‘Now Everyone Can Fly’.

Mungkin ada yang penasaran dan ingin tahu mengapa saya memilih terbang Bersama AirAsia? Berikut adalah beberapa alasannya.

Sepertinya semua orang yang pernah berkunjung ke Jogja pasti merasakan sensasi ‘istimewa’nya kota ini, sehingga membuat Jogja berbeda dari daerah-daerah lainnya di Indonesia. Kota romantis ini memang penuh pesona. Setiap sudutnya bahkan selalu memberikan kenangan berkesan. Mengunjunginya bagaikan candu yang mampu membuat siapa pun rindu untuk kembali bersua dengannya. Maka tidak heran, jika saya ingin kembali bernostalgia dan memeluk kembali pesona Jogja.

Begitulah cerita saya terbang #BahagiaBersamaAirAsia dalam rangka nostalgia pesona Jogja. Bagaimana dengan kamu? Semoga liburanmu bahagia dan penuh makna ya.

Happy holiday, everyone! 🙂

 

Disclaimer:

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog #BahagiaBersamaAirAsia yang diselenggarakan oleh Maskapai AirAsia Indonesia. Tulisan merupakan pengalaman pribadi penulis dengan foto-foto dokumentasi pribadi, adapun berbagai sumber referensi dan foto-foto pendukung lainnya didapatkan dari sumber-sumber yang telah tercantum di atas.

How many stars for this post?

1 Komentar

THOMAS · Desember 20, 2019 pada 9:02 am

Saya juga selalu pakai Airasia mas kalau kemana-mana, soalnya harganya sangat pas dikantong heheheheh. Sukeses selalu mas Firman

Like it?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This

Share This

Share this post with your friends!

error: Oops! Sorry. The content is protected :)