“Siapakah manusia yang paling berbahagia?”
“Manusia yang berhenti nafasnya, namun tidak berhenti pahalanya.”
~ Ibnu Qudamah Al Maqdisi ~

Demikianlah jawaban singkat nan padat yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi RA saat suatu hari ia ditanya oleh salah satu muridnya tentang memaknai orang yang paling bahagia. Beliau pun menjawab bahwa orang yang paling bahagia adalah orang yang saat nafasnya berhenti, pahalanya tidak berhenti atau tetap mengalir.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Muslim mengatakan bahwa manusia, apabila mati, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Ketiga hal tersebut merupakan investasi setiap orang tentang apa yang ia lakukan semasa hidupnya. Artinya, jika seseorang selama hidupnya membekali diri dengan ketiga hal itu, maka saat ajal menjemputnya, ia akan tetap menikmati investasinya tersebut.

Sedekah jariyah, sebagaimana disebutkan dalam Hadis Nabi di atas, bukanlah sedekah biasa. Kata “jariyah” memiliki arti mengalir. Maka, sedekah jariyah adalah sedekah yang pahalanya terus mengalir. Para ulama ahli Hadis pun menjelaskan bahwa sedekah jariyah maksudnya adalah sedekah yang manfaatnya bisa dinikmati terus menerus dan tidak terputus.

Sumber: Akun Instagram @literasizakatwakaf

Kemudian, para ahli Hadis menyimpulkan bahwa sedekah jariyah pada hakikatnya adalah wakaf. Maka, berbeda dengan sedekah biasa. Jika kita memberi uang kepada pengemis itu namanya sedekah biasa. Memberi makan nasi bungkus itu juga bentuk sedekah biasa. Sedangkan sedekah jariyah, beberapa bentuk contohnya antara lain: membangun sekolah, pesantren, masjid, jembatan, rumah sakit, perpustakaan, laboratorium, dan lain sebagainya. Amal dan sumbangsihnya dinikmati oleh banyak orang secara terus menerus silih berganti.

Dalam bahasa dan istilah yang lebih populer, seperti pada gambar yang dilampirkan di atas, sedekah dan wakaf dapat dibedakan berdasarkan bentuknya secara fisik. Sedekah merupakan segala macam kebaikan yang dilakukan dan tidak hanya menyangkut soal materi, tetapi juga non materiil. Sedangkan wakaf merupakan sedekah yang berbentuk aset seperti tanah, sekolah, masjid, rumah sakit, dan bangunan lainnya yang dapat memberikan manfaat bagi banyak orang dan biasanya memiliki jangka waktu yang lama.

Berbicara tentang wakaf, penulis secara pribadi yang pernah berpengalaman mengenyam bangku SMA di lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren, tentu saja tidak akan dengan mudahnya melupakan sejarah panjang perjuangan bagaimana pondok pesantren almamater terbentuk, tumbuh, berkembang, dan mampu eksis bertahan hingga saat ini, walau di tengah terpaan badai tantangan era globalisasi. 

Pondok Pesantren Daar el-Qolam, demikianlah nama pondok pesantren almamater tempat saya dan ribuan santri lainnya bernaung dan menuntut ilmu, bahkan hingga kini saya masih mengabdikan diri pada almamater saya ini. Pondok Pesantren Daar el-Qolam yang terletak di Desa Pasir Gintung, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten ini tidak secara tiba-tiba berdiri dengan kemegahan dan fasilitas yang bisa kita saksikan saat ini. Daar el-Qolam tumbuh dan berkembang selaras dengan perjuangan yang tidak kenal lelah, perjuangan yang didasarkan atas niat ibadah untuk mencerdaskan kehidupan manusia, manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.

Masih terekam jelas dalam memori ingatan saya, bagaimana seorang K.H. Ahmad Syahiduddin, Pengasuh Pondok Pesantren Daar el-Qolam saat ini yang selalu tegas dan menggebu-gebu dalam setiap tausiyah dan ceramahnya, namun selalu menitikkan air mata setiap kali dibacakan sejarah singkat berdirinya pondok pesantren yang dibacakan oleh Sekretaris Pesantren pada berbagai momentum acara.

Pondok Pesantren Daar el-Qolam didirikan pada tanggal 20 Januari 1968 M/27 Ramadhan 1318 H oleh Drs. K.H. Ahmad Rifa’i Arief atas perintah ayahnya, H. Qasad Mansyur. Kiai Rifa’i sendiri adalah alumnus Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur tahun 1966. Selepas pengabdiannya sebagai tenaga pengajar di pondok tersebut selama dua tahun, beliau kembali ke kampung halamannya untuk membantu ayahnya mengelola Madrasah Ibtidaiyah Masyariqul Anwar.

H. Qasad Mansyur menghendaki adanya lembaga pendidikan tingkat menengah agar para alumnus madrasah ibtidaiyah tersebut dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk itu, beliau memerintahkan putra sulungnya mendirikan sebuah pesantren seperti almamaternya. Atas perintah tersebut, Kiai Rifa’i mendirikan pesantren yang diberi nama Daar el-Qolam, yang secara terminologi berarti kampung pengetahuan.

Sejarah awal Daar el-Qolam adalah kisah tentang perjuangan, dedikasi dan kerja keras. Berawal dari sebuah dapur tua dan tanah wakaf pemberian neneknya, Hj. Pengki, Kiai Rifa’i kemudian menjadikannya tempat belajar santri yang kala itu berjumlah 22 orang. Berbekal tanah wakaf tersebut, Kiai Rifa’i mulai merintis cita-cita tentang sebuah lembaga pendidikan Islam modern untuk turut serta memajukan kualitas pendidikan anak bangsa. Tantangan dan hambatan banyak dihadapi oleh Kiai Rifa’i beserta orang tuanya, namun mereka melaluinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan hati. 22 murid yang datang dari kalangan keluarga, kerabat karib, serta masyarakat sekitar yang menjadi generasi awal santri di lembaga pendidikan ini dengan segala keterbatasan dan kekurangan.

Kini Pondok Pesantren Daar el-Qolam telah berkembang pesat menaungi 4 institusi pendidikan yakni Daar el-Qolam 1, 2, 3 dan 4. Semua institusi Daar el-Qolam ini saling berpacu mengusung visi dan misi pesantren yang tertuang dalam Panca Jiwa dan Moto Pondok untuk mendidik santri-santri agar memiliki jiwa ikhlas, sederhana, berdikari, ukhuwah islamiyah, dan kebebasan. Serta menanamkan 4 karakter utama yakni: berbudi luhur, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas. 5 jiwa dan 4 moto itu menjadi landasan dan falsafah pada setiap kegiatan santri yang dituangkan dalam bentuk disiplin hidup, disiplin beribadah, disiplin berbahasa Arab dan Inggris, kepemimpinan, serta keseimbangan wawasan duniawi dan ukhrawi juga mengajarkan nilai-nilai Islam yang santun, moderat, toleran dan inklusif.

Daar el-Qolam yang dahulu hanya berasal dari sebuah dapur tua, bermodalkan tanah wakaf yang dimanfaatkan dan dikembangkan atas dasar niat yang kuat dan mulia, kini mampu berdiri dan melebarkan sayap di atas puluhan hektar petak tanah. Daar el-Qolam pun terus berupaya membangun sistem yang kuat, sistem yang responsif terhadap dinamika dan perkembangan isu-isu pendidikan. Seperti pesan pendiri pesantren ini ”Daar el-Qolam tidak boleh terkenal karena kiainya, Daar el-Qolam harus terkenal dengan sistem yang ada di dalamnya.”

 

Sumber Referensi:

  • Akun Instagram @literasizakatwakaf https://www.instagram.com/literasizakatwakaf/
  • https://bimasislam.kemenag.go.id/
  • http://www.daarelqolam.ac.id/profil/sejarah/
  • https://www.republika.co.id/berita/kolom/wacana/19/10/13/pzayxh282-memperkuat-ekosistem-wakaf
  • https://www.tribunnews.com/ramadan/2019/05/12/hikmah-ramadan-nafas-berhenti-pahala-tetap-mengalir
  • http://www.infaqdakwahcenter.com/m/waqaf-article/377/kekalkan-harta-dengan-waqaf-dibawa-mati-pahala-terus-mengalir-jadi-investasi-abadi/

Catatan:

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog ‘Festival Literasi Zakat dan Wakaf 2019’ yang diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI. Beberapa foto merupakan dokumentasi pribadi penulis dan beberapa lainnya didapatkan dari sumber-sumber yang telah tercantum di atas.

How many stars for this post?

1 Komentar

Andika Ramadhana · Oktober 27, 2019 pada 11:53 am

Waaahhh bagus, saya setuju dengan pendapatnya mas.
Semoga potensi waqaf di tanah air bisa naik daun yaah👏

Like it?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This

Share This

Share this post with your friends!

error: Oops! Sorry. The content is protected :)