Halo Sobat Bang Firman’s Blog …

Mengawali tulisan saya kali ini, izinkan saya bertanya satu pertanyaan kepada kalian semua ya.

Kalian pasti punya toko atau warung tradisional langganan di sekitar lingkungan tempat tinggal kalian, kan? Baik itu warung jajan makanan dan minuman, sembako, perlengkapan rumah, counter pulsa, laundry dan kosmetik, dan lain sebagainya. Punya, kan? ūüôā

Atau mungkin sebagian besar dari kalian justru sudah jarang berbelanja dan bertransaksi di warung tradisional? Melainkan di minimarket atau supermarket misalnya. Bisa jadi! Hehe… Pemandangan orang berbelanja di minimarket atau supermarket memang semakin lumrah pada era yang semakin digital dan modern ini. Apa lagi, saat ini berbelanja juga bisa dilakukan secara online, cukup melalui genggaman smartphone dan koneksi internet. Pastinya keadaan ini menjadi tantangan besar bagi para pelaku usaha warung-warung tradisional.¬†

Sejak zaman dahulu, warung tradisional sudah hadir di berbagai daerah Indonesia, menawarkan berbagai produk makanan, minuman, hingga kebutuhan rumah tangga untuk masyarakat umum. Bentuk dan konsepnya yang sederhana, mengandalkan relasi antar pemilik warung dan pembeli, menjadikan warung tradisional rutin dikunjungi pembeli.

Ilustrasi warung tradisional atau warung kelontong. Sumber: kudo.co.id

Namun, perlahan tapi pasti, jumlah warung tradisional di Indonesia kian menurun, seiring menjamurnya minimarket dan toko swalayan di seluruh wilayah Indonesia. Faktanya, dulu jumlah warung tradisional di Indonesia diperkirakan ada sekitar 1,6 juta di seluruh Indonesia. Namun 2 hingga 3 tahun terakhir, jumlahnya turun menjadi 1,4 juta karena tergerus kehadiran minimarket dan toko swalayan. Padahal, warung tradisional masuk dalam sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan perputaran bisnis paling cepat. Hmmm, sayang banget kan, Sobat?

Berbicara tentang warung, saya jadi ingin berziarah ke masa lalu dan bernostalgia dengan memori sedikit pilu. Mengingat kembali masa-masa saat di mana keluarga saya yang masih lengkap dengan ayah dan ibu kala itu, merintis usaha warung yang terbilang cukup berjaya karena selalu ramai didatangi pembeli dan memiliki banyak pembeli langganan.

Keluarga saya memang asli perantau. Ayah dan ibu berasal dari ranah Minang. Kalian pasti tahu juga bahwa orang-orang Padang atau keturunan suku Minangkabau memang terkenal pandai berdagang dan hidup berpindah-pindah tempat atau merantau, termasuk salah satunya adalah keluarga saya sendiri.

Satu-satunya memori foto yang tersisa dari usaha warung keluarga yang sempat berjaya pada zamannya. Terlihat di frame adalah kakak dan adik perempuan saya. Foto ini cukup lawas, diambil pada tahun 1997. Lihatlah bagaimana suasana warung keluarga saya yang ‘padat’ akan barang dagangan. Apa saja ada, cukup lengkap.

Bahkan dahulu, sebelum ayah dan ibu membuka warung kelontongan, mereka sempat membuka usaha ‘Rumah Makan Padang’, tepatnya ketika saya belum lahir hingga saya berusia sekitar 3 tahun. Kemudian berpindah tempat tinggal dan memulai usaha baru, yaitu warung kelontong atau warung untuk kebutuhan sehari-hari.¬†

Salah satu memori yang saya ingat adalah bahwa warung keluarga saya merupakan satu-satunya warung kelontong terlengkap di desa kami. Sehingga tak heran, bila para pembeli selalu ramai berdatangan ke warung kami, bahkan tidak sedikit pula yang menjadi pembeli langganan. Sepertinya tidak berlebihan jika saya katakan, semua kebutuhan harian apa pun bisa ditemukan di warung keluarga saya saat itu, mulai dari sembako, makanan, minuman, es krim (saat itu masih jarang sekali), kosmetik, rokok, obat-obatan, berbagai jenis sandal, hingga kebutuhan perlengkapan rumah tangga lainnya.

Saya bersama kakak, adik, dan keponakan perempuan saya.

Namun, kejayaan tersebut tidak bertahan lama, karena sejatinya memang tidak akan ada yang abadi di dunia ini. Pada tahun 2002, kedua orang tua saya wafat dengan hanya berselang seminggu antara keduanya, ibu wafat menyusul ayah yang telah wafat seminggu sebelumnya. Sepeninggal orang tua, saya bersama 5 saudara kandung lainnya harus tetap melanjutkan hidup. Warung keluarga kami pun secara perlahan mulai sepi dan akhirnya harus gulung tikar, karena kesibukan kami yang sekolah dan bekerja sebagai karyawan sehingga tidak ada yang fokus untuk mengurusi warung.

Tetapi, saya yakin di antara kami 6 bersaudara, pasti ada darah wiraswasta yang mengalir dan menurun dari orang tua kami, mungkin memang belum saatnya saja terealisasi. Akan ada saatnya nanti kami kembali membangun usaha warung seperti orang tua kami, sebagai investasi untuk masa yang akan datang dan meneruskan semangat usaha mereka.

Pada awal tulisan, saya sudah membukanya dengan sebuah pertanyaan tentang warung langganan. Kini, saatnya saya bercerita sedikit tentang salah satu warung yang telah menjadi tempat langganan saya, khususnya dalam hal laundry atau mencuci pakaian. Jadi, seperti beberapa jenis warung tradisional lainnya, saya juga memiliki tempat langganan untuk kebutuhan mencuci pakaian pribadi saya. Harap maklum, masih menikmati masa-masa menjadi bujangan. ūüėÄ

Si Bundo ketika sedang menimbang dan membuat bon pembayaran untuk pakaian harian saya yang dibungkus atau dibuntel dengan sarung.

Karena kesibukan saya menjalani rutinitas yang cukup padat di Pesantren, mengajar dan membimbing kegiatan harian santri. Saya seringkali merasa kesulitan untuk membagi waktu mengurusi kebutuhan pribadi, seperti mencuci pakaian ini misalnya. Sehingga pastinya, saya membutuhkan jasa seseorang atau pihak lain untuk mencuci dan menyetrika pakaian harian saya. Setelah beberapa kali mencari dan gonta-ganti tempat laundry, akhirnya saya menemukan tempat laundry yang klop dan sudah berlangganan kurang lebih dua tahun terakhir. Sebut saja beliau Si Bundo, sapaan akrab saya kepada Ibu pemilik Bunda Laundry. 

Panggilan akrab saya kepada beliau tentu bukan tanpa alasan. Alasan yang paling Utama adalah karena kami sama-sama berasal dari ranah Minang, perantau, dan memiliki background cerita usaha dagang. Kesamaan inilah yang mungkin akhirnya membuat saya merasa akrab dan nyaman, sehingga ketika saya datang ke warungnya untuk mengantarkan pakaian yang hendak dicuci, obrolan demi obrolan pun tak luput menghiasi setiap transaksi laundry. 

Warung laundry milik Si Bundo. Tersedia juga beberapa dagangan kebutuhan harian seperti perlengkapan mandi, obat-obatan, kosmetik, aksesoris, dan lain sebagainya.

Singkat cerita, selain memiliki usaha jasa laundry di warungnya, Si Bundo juga menjual beberapa kebutuhan sehari-hari seperti perlengkapan mandi, obat-obatan, kosmetik, aksesoris, dan lain sebagainya. Ia juga pernah bercerita, bahwa sebagai tambahan pendapatan, ia juga membuka jasa pembelian pulsa telepon seluler serta pulsa dan token listrik kepada para pelanggannya.

Setelah seringnya mengobrol dan mendengarkan cerita-cerita yang beliau sampaikan tentang keluarga dan warung yang dikelolanya, sebagai seorang pelanggan langganan jasa laundry yang sangat akrab dan dekat dengan beliau, pernah terbesit di pikiran saya untuk membantu dan menyuarakan ide yang ada di kepala untuk bisa diwujudkan dan diterapkan oleh beliau demi mengembangkan dan memajukan warungnya tersebut dan memaksimalkan pendapatan usaha. 

Pada saat yang bersamaan, saya juga mulai mencari tahu, mengenal, dan mempelajari satu buah aplikasi digital yang bisa dimanfaatkan oleh warung tradisional seperti warung Si Bundo ini. Aplikasi tersebut juga terbukti berhasil membantu ratusan ribu warung untuk memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah serta mewujudkan warung tradisional menjadi warung digital serba bisa dalam melayani berbagai produk dan layanan bagi pelanggan. Keren, kan? Tidak salah lagi, aplikasi yang saya maksud adalah KUDO, Warung Digital Serba Bisa. 

Sebelum saya melanjutkan dan membahas lebih jauh tentang warung si Bundo dan hal sederhana apa yang bisa saya lakukan untuk membantu mengembangkan usaha warung beliau, sekarang mari kita berkenalan lebih dekat dengan Kudo, Warung Digital Serba Bisa.

Kudo yang merupakan singkatan dari Kios Untuk Dagang Online adalah platform teknologi Online-to-Offline dan penyedia produk digital yang berkomitmen untuk memberdayakan warung serta usaha kecil dan menengah untuk berjualan berbagai macam produk dan layanan dengan satu aplikasi.

Sejak didirikan pada tahun 2014, aplikasi Kudo telah digunakan oleh 2 juta agen Kudo yang jaringannya telah tersebar di lebih dari 500 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Melalui jaringan agen ini, Kudo berupaya untuk mendorong pertumbuhan transaksi secara digital, khususnya kepada masyarakat yang masih memiliki keterbatasan akses secara digital. Mulai Mei 2017, Kudo juga secara resmi menjadi bagian dari keluarga besar Grab, dan secara bersama memiliki visi untuk memajukan Indonesia.

Lalu sebagai agen Kudo, apa saja produk-produk dan layanan yang bisa ditawarkan?

Lewat Kudo, kamu bisa beli online dan jual secara offline. Visi Kudo adalah untuk membantu masyarakat, terutama kelas ekonomi menengah dengan cara memberikan akses ke berbagai barang dan layanan. Sehingga kini pengusaha kecil dan menengah dapat menjual jutaan produk tanpa harus menambah stok barang.

Kita bisa mendapatkan jutaan produk online dengan harga grosir untuk warung, komisi menarik di setiap transaksi, layanan pembayaran tagihan terlengkap, akses modal usaha dengan mudah, serta menjadi jadi Agen resmi perekrutan Mitra Pengemudi Grab.

Melalui teknologi, Kudo juga turut mengambil bagian dalam mendukung gerakan sosial #MajuinWarung. #MajuinWarung sendiri sebenarnya adalah kampanye sosial yang mengangkat tentang pentingnya peran warung tradisional dan UKM di Indonesia. #MajuinWarung juga ingin mengajak masyarakat untuk membantu warung tradisional dan UKM selangkah lebih maju pada era digital saat ini. Kampanye sosial ini digagas oleh komunitas pejuang warung @warungobrol dan Kudo.

Kita melihat dan sadar bahwa warung tidak akan pernah bisa bersaing dengan gerai ritel modern jika tidak adanya perubahan. Maka, perlu adanya pengembangan produk dan layanan pada warung-warung tradisional. Dan Kudo sudah membuktikannya dengan inovasi dan teknologi yang mereka buat. Apa yang saya lakukan bersama Kudo untuk mendukung warung laundry Si Bundo adalah cara dan langkah yang kecil dan sederhana namun dapat berdampak besar bagi kelangsungan hidup para pengusaha warung.

Maka dari itu, kalau kamu memang mengaku sebagai #Pejuang Warung dan memiliki kepedulian terhadap keberadaan dan eksitensi warung tradisional,  ayo mulai #MajuinWarung dan #MerdekainWarung sekarang!

    Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition yang diselenggarakan oleh Kudo dengan tema #MerdekainWarung. Untuk informasi lebih lanjut, klik banner lomba pada sidebar di sebelah kanan halaman.

     

    How many stars for this post?

    0 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Share This

    Share This

    Share this post with your friends!

    error: Oops! Sorry. The content is protected :)