Traveling is the only thing you buy that makes you richer.”

– Anonymous –

“Traveling – It leaves you speechless, then turns you into a story teller.”

– Ibn Battutah, The Travels of Ibn Battutah

Hai! Sobat Traveler. Beberapa waktu lalu, tepatnya ketika liburan akhir tahun 2017, saya memutuskan untuk #BeraniTraveling mengeksplor suatu tempat atau daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Sebenarnya, perjalanan ini memang sudah terpikirkan dan direncanakan oleh saya sejak jauh-jauh hari. Entah mengapa, saya sangat ingin sekali mengetahui bagaimana kekayaan alam, budaya serta kehidupan masyarakat yang ada di pelosok Banten, tepatnya di Kabupaten Lebak.

Saya pribadi sangat penasaran dengan daerah Kabupaten Lebak, karena secara geografis terlihat bahwa Lebak memiliki cakupan wilayah yang paling luas di antara daerah Kabupaten dan Kota lainnya di Banten. Namun, luasnya daerah di Lebak tidak sebanding dengan kemajuan daerah dan kesejahteraan penduduknya secara ekonomi, sehingga Lebak sempat dikenal sebagai salah satu daerah kabupaten tertinggal di pulau Jawa.

Desa Citorek, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Ya, itulah nama daerah yang berhasil menggugah rasa penasaran saya. Berbekal rasa keingintahuan dan penasaran yang tinggi untuk menjajaki luasnya wilayah Lebak, dengan sedikit sumber informasi yang saya dapatkan tentang Citorek, akhirnya saya putuskan untuk #BeraniTraveling mengeksplor Citorek bersama seorang teman saya dengan menggunakan sepeda motor.

Citorek merupakan wilayah kesepuhan (kasepuhan) yang terdiri dari lima desa, yaitu Desa Citorek Timur, Desa Citorek Tengah, Desa Citorek Barat, Desa Citorek Sabrang, dan Desa Citorek Kidul. Lima desa itu termasuk ke dalam Kesatuan Wewengkon Citorek. Secara administratif, kelima desa tersebut termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Wilayah desa itu dipimpin oleh seorang Jaro (Kepala Desa). Kelima Jaro yang ada di Kesatuan Wewengkon Citorek disebut Pandawa Lima yang dipegang oleh Kasepuhan Kejaroan.

Masyarakat Citorek merupakan salah satu masyarakat adat yang ada di Kabupaten Lebak, Banten. Masyarakat adat Citorek hampir sama dengan masyarakat adat Cisungsang yang memiliki karakteristik lebih terbuka terhadap dunia luar, dibandingkan dengan masyarakat Suku Baduy yang juga berada di Kabupaten Lebak.

Melancong ke Desa Adat Citorek ternyata sangatlah mengesankan. Pesona adat dan budaya yang dimiliki sangat menarik untuk ditelusuri. Masyarakat adat Citorek merupakan masyarakat beragama Islam yang masih memegang erat tradisi nenek moyang mereka semenjak desa ini dibentuk dahulu kala. Dalam hal mempertahankan tradisi, masyarakat adat Citorek memiliki karakteristik yang sama dengan masyarakat adat Suku Baduy. Penghargaan masyarakat terhadap para sesepuh atau pemimpin adat sangatlah tinggi. Selain itu, masyarakat adat Citorek sangat taat terhadap aturan adat meskipun peraturan tersebut tidak tertulis.

Mayoritas masyarakat adat Citorek bekerja sebagai petani. Dalam hal bertani, masyarakat adat Citorek juga masih sangat memegang teguh adat istiadat dari zaman dahulu kala. Salah satu pemandangan yang paling mencolok ketika saya menginjakkan kaki di Citorek adalah banyaknya Leuit atau lumbung padi khas masyarakat adat Citorek yang menghiasi setiap sudut desa. Leuit tentu merupakan benda warisan budaya yang sangat penting, karena sebagai tempat penyimpanan padi atau beras yang merupakan makanan pokok bagi masyarakat adat Citorek.

Masyarakat adat Citorek pun memiliki aturan tertentu dalam melakukan penanaman padi serta memiliki tradisi Seren Taun atau Serah Tahun sebagai bentuk rasa syukur pasca panen setiap tahunnya. Tradisi Seren Taun meliputi kegiatan saresehan di rumah adat Kasepuhan Citorek, hiburan seni tradisional masyarakat Citorek serta acara inti yaitu melaksanakan ziarah kubur, disertai perangkat adat dan unsur pemerintahan desa.

Selain bertani, sebagian masyarakat adat Citorek juga memiliki mata pencaharian sebagai peternak ikan mas. Masyarakat memanfaatkan aliran sungai yang ada di sepanjang desa mereka sebagai tempat untuk memelihara ikan mas. Di pinggiran sungai tersebutlah mereka memasang Rangkeng, sejenis keramba tradisional yang terbuat dari bambu sebagai tempat untuk memelihara ikan yang mereka miliki.

Ikan mas hasil peliharaan biasanya dijual dan dijadikan hidangan lauk oleh masyarakat. Sebagian pembeli biasanya menjadikan ikan mas ini sebagai ikan hias karena ikan mas Citorek memang terkenal kualitasnya unggul. Satu ekor ikan mas berukuran besar harganya bisa mencapai lebih kurang 100.000 Rupiah. Harga yang cukup tinggi, bukan? 🙂

Selama perjalanan mengeksplor Citorek menggunakan sepeda motor, saya disuguhi pemandangan alam yang luar biasa menyejukan mata. Bagi saya, perjalanan ke Citorek seperti menemukan peradaban di balik pegunungan yang rumit. Jalanan yang curam menanjak, kemudian turun menukik serta tikungan-tikungan tajam selalu menghiasi perjalanan saya. Citorek memang berada di sebuah cekungan di sisi dataran tinggi pegunungan Halimun Salak. Beruntungnya, akses jalan aspal dan cor telah dibangun sampai ke Desa Citorek sehingga bisa memudahkan para pelancong ke desa ini. Dari Ibukota Lebak, yaitu Kota Rangkasbitung, kawasan adat Citorek dapat ditempuh kurang lebih 180 kilometer.

Karena berada di sisi dataran tinggi pegunungan Halimun Salak, maka tak heran bila kita akan disuguhi pemandangan yang menghijau, mulai dari persawahan hingga bukit dan pegunungan. Bagaimana? indah bukan?

Dan kamu tahu gak sih? Selain alamnya yang indah menghijau, ternyata Citorek juga memiliki kekayaan alam lain yang sudah banyak dikenal orang. Citorek dikenal sebagai daerah yang memiliki tambang emas. Dulu, di Citorek ada perusahaan yang mengolah tambang emas ini, namun kini sudah tidak aktif. Melihat kekayaan alam yang dimiliki Citorek ini, masyarakat Citorek pun akhirnya tidak ingin tinggal diam.

Banyak di antara masyarakat Citorek yang akhirnya mencoba untuk mengais rezeki dari sisa-sisa tambang emas yang sudah ditinggalkan oleh perusahaan tersebut, kemudian mereka mengolahnya sendiri secara tradisional dengan mesin yang mereka miliki di rumah. Mesin tersebut bernama Gelondongan. Dengan mesin ini, masyarakat Citorek dapat menyaring dan memisahkan butiran-butiran emas yang terkandung di dalam batu-batu yang sudah dihancurkan sebelumnya.

Tak heran, bila kemudian banyak masyarakat Citorek yang sukses mendulang pundi-pundi rupiah dari hasil mereka menambang, mengolah serta menjual emas yang mereka miliki. Kesuksesan mereka sebagai penambang emas bisa terlihat dari rumah-rumah yang mereka tinggali.

Inilah cerita saya #BeraniTraveling menjelajah pelosok Lebak, Banten. Kamu?

Yuk Jelajahi Indonesia!

How many stars for this post?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This